GambarSATU objek bisa menimbulkan persepsi yang berbeda. Contohnya gambar ilustrasi di sebelah ini. Ada yang menyebut gambar ini adalah wanita muda yang cantik. Tapi ada juga yang menyebut gambar ini hanyalah gambar nenek-nenek peyot. Contoh lain, kebijakan yang diambil oleh pemerintah akan selalu ditanggapi berbeda oleh warganya: ada yang pro, ada juga yang kontra.

Itulah persepsi. Apa sebenarnya pengertian persepsi itu? Pada dasarnya persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan (penerimaan stimulus oleh individu melalui alat reseptor atau indera) dan pemberian makna terhadap stimulus tersebut (proses interpretasi). Atau dengan kata lain, proses menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Sekilas, proses persepsi ini terdengar sederhana. Tapi disadari atau tidak, persepsilah yang membuat (menyebabkan) keadaan kita seperti yang kita rasakan hari ini.

Sebetulnya ada banyak faktor yang mempengaruhi persepsi. Secara umum dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi fisiologis (penginderaan), perhatian, minat, kebutuhan, pengalaman (memori) dan suasana hati. Sedangkan faktor eksternal, lebih pada aspek intensitas dan kekuatan stimulus yang menerpa. Adapun definisi persepsi, antara lain seperti yang dikemukakan Gibson (1989) dalam buku yang berjudul Organisasi dan Manajemen Perilaku. Ia mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya. Dan apa yang ada dalam diri individu, apakah itu pikiran, perasaan, dan juga pengalaman, akan ikut aktif berpengaruh dalam proses persepsi.

Dalam proses persepsi, tiap-tiap individu memberikan arti kepada stimulus secara otonom, terutama karena dipengaruhi oleh faktor pengalaman dan proses belajar individu. Oleh karena itu, persepsi umumnya dikendalikan oleh cara pandang (sudut pandang). Itulah mengapa persepsi itu menjadi sangat subyektif. Terhadap suatu stimulus, kita seringkali tidak melihat kebenaran, melainkan apa yang sebenarnya kita inginkan. Lalu kita berupaya melakukan pembenaran terhadap apa yang kita inginkan itu menurut perasaan kita.

Subyektivitas adalah hal yang alami dalam proses persepsi. Dan inilah yang menyebabkan persepsi berpengaruh terhadap keadaan kita di masa mendatang. Cara kita mempersepsi setiap stimulus yang datang akan menentukan masa depan kita. Dalam hal ini, bila kita mengedepankan pemikiran positif dalam mempersepsi setiap stimulus, maka tindakan positif akan merespon persepsi kita. Begitu pun sebaliknya. Karena pikiran kitalah yang membuat sesuatu yang baik tetap menjadi baik, atau malah menjadikannya buruk!

Sampai di sini, sebenarnya kita bisa menciptakan keadaan kita hari ini. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada diri kita hari ini sebenarnya adalah keinginan kita sendiri, hasil dari cara kita mempersepsi dan merespon setiap stimulus di masa lalu. Jadi, jika menginginkan hidup kita di masa-masa yang akan datang baik-baik saja, maka sejak saat ini kita harus mengedepankan pikiran positif setiap kali mempersepsi stimulus yang datang (menerpa) agar tindakan yang mengikutinya juga positif. Jangan justeru sebaliknya! [a]