POLA hidup tak sehat mengkonsumsi makanan dengan kadar kalori tinggi kini banyak dialami masyarakat rumpun Melayu. Pola makan seperti ini, ditiru dari gaya hidup barat sebagai dampak globalisasi. Akibatnya, makin banyak orang Melayu yang mengalami hipertensi dan kolesterol tinggi. Demikian disampaikan Prof. Sidartawan Soegondo dari Divisi Endrokrinologi dan Metabolisme Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menurut Sidartawan, tingginya angka kasus penyakit kronik  mencerminkan perubahan kultur, sosial dan ekonomi seiring globalisasi, urbanisasi dan peningkatan populasi penduduk usia lanjut. Penduduk di negara berpendapatan menengah ke bawah kini banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, garam dan gula, disebabkan adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan. Kondisi ini mendorong muncul dan berkembangnya restoran siap saji, dan sasaran pemasaran restoran-restoran seperti ini pada umumnya adalah anak-anak dan remaja, sehingga menyebabkan perilaku makan tidak sehat ini telah menjadi budaya (tradisi).

Akibatnya risiko penyakit kronik (seperti penyakit jantung koroner dan diabetes) di negara-negara berkembang makin tinggi tidak saja pada masyarakat dengan usia lanjut, tapi juga pada usia yang lebih muda. Fakta menunjukkan, penderita obesitas dan kolesterol tinggi meningkat cepat saat negara-negara miskin jadi lebih kaya dan pendapatan masyarakat meningkat.

Pola makan masyarakat rumpun Melayu yang terbiasa makan banyak sayuran kini bergeser jadi tinggi kalori dan lemak seperti pola makan barat padahal secara genetik masyarakat rumpun Melayu tidak butuh banyak kalori. Sayangnya, perubahan pola makan ini tidak diikuti dengan memperbanyak aktivitas fisik. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi. Faktor risiko penyakit kardiovaskular umumnya berkaitan dengan perubahan gaya hidup ini. Sedangkan obesitas cenderung berkaitan dengan diabetes melitus.

Dalam studi kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Kebangsaan Malaysia menunjukkan ada kesamaan profil hipertensi pada masyarakat dua negara ini. Hasil studi tentang hipertensi menunjukkan, angka hipertensi di komunitas perkotaan dan pedesaan tinggi, hal serupa terlihat di Malaysia. Pre hipertensi dialami 41,4 persen responden di pedesaan di Lido, Bogor, 34,9 persen responden di Jakarta, dan 38,1 persen responden di Malaysia. Hipertensi tahap satu dialami 20,7 persen responden di Lido, sebanyak 26,9 persen responden di Jakarta, dan 23,5 persen di Malaysia. Hipertensi tahap dua justru lebih banyak dialami responden di pedesaan yaitu 16,8 persen daripada di perkotaan (14,6 persen). Sementara angka obesitas di Jakarta sebanyak 27,9 persen dari total responden, dan di Malaysia mencapai 43,6 persen dari total jumlah responden.

So, jika ingin hidup lebih sehat, masyarakat melayu (apakah di Indonesia atau Malaysia) harus mengubah kembali pola makan. Kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi kalori harus diubah dan mulai kembali membiasakan diri untuk mengkonsumsi sayuran hijau dan buah. [a]

(Sumber: http://www.kompas.com)