SUKA atau tidak, hubungan seks suami-isteri sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita. Seseorang yang benar-benar menikmati hubungan seksnya akan terlihat tenang, ceria, awet muda serta terpancar kebahagian di wajahnya. Ia sentiasa bersemangat, mudah bergaul, pekerjaannya sempurna, banyak ide dan rumahtangganya aman bahagia. Semua ini adalah harapan dan impian semua orang (termasuk saya dan Anda semua pastinya hehehe…🙂.

Namun hampir 95% pasangan suami isteri tidak dapat menikmati seks dengan sempurna. Banyak pasangan suami-isteri gagal mencapai ‘kepuasan’ dalam hubungan seks. Kaum lelaki (para suami), karena keegoannya, tidak akan mengaku walau banyak di antara mereka yang mengalami ejakulasi dini (malah kadangkala, ada pula yang alat vitalnya tidak mampu ‘bekerja’ dengan baik). Sementara bagi kaum perempuan (para isteri), cenderung menyembunyikan masalah ini kerana perasaan sayangnya pada suami dan juga karena malu. Walau tak pernah klimaks, mereka tetap melayani suaminya berhubungan seks.

Sebenarnya, masalah yang terjadi dalam hubungan suami-isteri tak perlu ditutupi. Masalah yang bertumpuk dapat mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan keluarga. Dalam hal ini agama Islam (dan juga agama lainnya) telah mengisyaratkan bahwa hasrat seksual adalah fitrah manusia, bukan sesuatu yang ‘kotor’. Oleh karena itu, Islam melarang orang yang hendak menghilangkan hasrat seksualnya dengan cara menjadi bujang (meninggalkan sunnah Nabi SAW). Rasulullah SAW menyatakan: “Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih khusyu kepada Allah daripada kamu, tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Mengenai hubungan suami-isteri ini, Islam menegaskan bahwa mengerjakannya adalah suatu ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).” Dan berdasarkan tabiat dan fitrah, pihak laki-laki cenderung lebih agresif, tidak memiliki kesabaran dan kurang dapat menahan diri. Sebaliknya wanita lebih bersikap pemalu dan dapat menahan diri. Maka, menjadi keharusan bagi wanita (isteri) menerima dan mentaati panggilan suami. “Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang masak.” (H.R. Tirmidzi). Rasulullah SAW juga menganjurkan supaya si isteri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau menyebabkannya suaminya menyimpang ke jalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang sebagaimana sabdanya: “Jika suami mengajak tidur si isteri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (H.R. Muttafaq Alaih).

.

foreplay
Isterimu adalah ibarat ‘tanah tempat bercocok tanam’, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dengan cara bagaimana saja yang engkau kehendaki…

.

Islam juga melarang wanita (para isteri) berpuasa sunnah tanpa izin suami. Rasulullah SAW bersabda: “Dilarang bagi si isteri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (H.R. Muttafaq Alaih). Hak perempuan untuk mendapatkan kenikmatan seksual juga dijamin dalam Islam. Mengenai hal ini, Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada (menegur) seorang laki-laki yang terus-menerus puasa dan bangun malam. Beliau bersabda: “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu (isterimu) ada hak.”

Lalu apa sebenarnya tujuan dari hubungan suami-isteri itu? Tak lain dan tak bukan, untuk memelihara keturunan, mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus, merasakan kenikmatan (sebagaimana kelak di surga), dan untuk menundukkan pandangan (menahan nafsu, menguatkan jiwa dan agar tidak berbuat serong bagi kedua pasangan). Rasulullah SAW menyatakan: “Yang aku cintai di antara duniamu adalah wanita dan wewangian.” Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai para pemuda! Barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah. Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.”

Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-isteri, kecuali yang telah disebutkan dalam firman Allah SWT, yaitu: “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Q.s. Al-Baqarah 187) dan “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dengan cara bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan takwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.s. Al-Baqarah: 222-223). So, datangilah tanah tempat bercocok tanammu dengan cara bagaimanapun yang engkau kehendaki, asal tidak saling menyakiti! [a]