banner-prita-180x150MALANG benar nasib Prita Mulyasari (32 tahun). Ibarat ‘jatuh’, tertimpa ‘tangga’ pula. Padahal, tak ada kesalahan (apalagi kejahatan) sama sekali yang ia perbuat. Ibu dua anak ini hanya melakukan komplain atas buruknya pelayanan medis yang dialaminya di RS Omni Internasional.

Apakah komplain adalah kesalahan? Kalau Anda sakit dan dirawat di RS, lalu mendapatkan perlakukan yang ‘salah’, apakah Anda akan menerimanya? Tentu tidak, karena perlakuan yang ‘salah’ dapat menyebabkan Anda ‘celaka’. Nah, kalau Anda melakukan komplain terhadap perlakuan yang ‘salah’ itu, apakah ini adalah suatu kesalahan? Ini bukanlah kesalahan, apalagi kejahatan. Sebagai konsumen, kita bukan saja bisa komplain atas pelayanan medis di salah satu RS, tapi juga bisa menempuh jalur hukum jika mengalami perlakuan yang ‘salah’ (malpraktik) dari paramedis (perawat atau dokter).

Cobalah baca isi ‘curhat‘ dari Prita Mulyasari yang menyebabkannya masuk penjara. Apa yang dilakukan Prita masih dalam batas yang wajar. Bahasa komplain memang seperti itu, karena dibuat dalam keadaan suasana hati sedang emosi. Itu hal yang wajar….

Yang tidak wajar, Prita sampai ditahan hanya karena curhat-nya itu. Apalagi ia sampai dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal satu milyar rupiah.

Oke, kalau pihak RS Omni merasa tercemar nama baiknya karena curhat Prita yang tersebar di internet. Mestinya yang dilakukan pertama kali adalah membuat hak jawab…. Tapi karena proses hukumnya sudah berjalan, ya sudah, serahkan saja penyelesainnya di pengadilan. Hakim harus jeli ‘mengadili’ persoalan ini. Jangan hanya melihat aspek pencemaran nama baik melalui medium internet, tapi harus melihat substansi persoalan secara keseluruhan. Bagaimana kalau seandainya apa yang dialami Prita itu benar adanya? [a]