MEGA-BOWOPERKEMBANGAN politik sepekan terakhir menarik dicermati. Terutama tentang tak adanya titik temu dalam negosiasi antara petinggi PDIP Perjuangan dan Partai Gerindra mengenai siapa calon presiden (capres) yang akan diusung bersama. PDI Perjuangan ngotot menginginkan Megawati Soekarnoputri sebagai capres, sementara Gerindra juga ngotot menjagokan Prabowo Subianto sebagai capres. PDI Perjuangan beralasan, perolehan suaranya dalam pemilu legislatif lebih besar dibanding Gerindra. Tapi Partai Gerindra berpendapat, walau perolehan suaranya hanya sekitar 4,5%, tapi popularitas Prabowo sedang menanjak dan diyakini paling berpeluang mengimbangi popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), capres yang diusung Partai Demokrat (incumbent).

Isu hubungan Mega – Prabowo terancam bubar pun santer terdengar. Bersamaan dengan itu, komunikasi politik antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat yang telah membeku lima tahun terakhir, mulai mencair. Partai Demokrat menganggap renggangnya hubungan PDI Perjuangan dan Partai Gerindra bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ‘koalisi Cikeas’. Caranya, dengan menghadang laju Megawati atau Prabowo sebagai capres. Akan lebih baik bagi Demokrat, jika pemilihan presiden (pilpres) 2009 hanya melibatkan dua kandidat, yaitu SBY dan Pasangannya dengan Jusuf Kalla (JK) yang berpasangan dengan Wiranto (JK-Win).

Akankah komunikasi politik antara Megawati dan Prabowo yang telah terjalin sejak lama berakhir sia-sia?

PDI Perjuangan di-iming-imingi sedikitnya 6 (enam) posisi menteri di kabinet nanti jika bersedia memperkuat ‘koalisi Cikeas’. Tawaran ini diberikan pada PDI Perjuangan karena partai ini nyaris tidak bisa mengajukan capres sendiri jika tak didukung Partai Gerindra. Sedangkan untuk menghadang laju Prabowo sebagai capres, Partai Demokrat mengundurkan jadwal pendeklarasian SBY sebagai capres pada tanggal 15 Mei 2009 (rencana semula akan diumumkan ke publik tanggal 11 Mei 2009). Sebelumnya, ada pernyataan dari Partai Gerindra, bahwa mereka menunggu Partai Demokrat mengumumkan capres dan cawapresnya sebelum mengambil keputusan.

Partai Gerindra berharap SBY pada akhirnya memilih profesional sebagai cawapresnya, sehingga bisa ‘menggarap’ partai-partai lain (yang telah bergabung dengan ‘koalisi Cikeas’) yang ‘mungkin’ kecewa atas keputusan SBY memilih cawapres dari kalangan profesional. Hal ini untuk mencukupkan dukungan terhadap Prabowo sebagai capres. Dan kalau pun SBY memilih cawapres dari partai politik (parpol), Gerindra masih bisa berharap untuk menggarap beberapa parpol dalam koalisi Cikeas yang jagoannya tidak dipilih sebagai cawapres mendampingi SBY.

Sementara bagi PDI Perjuangan, Partai Gerindra adalah harapan terakhir dan satu-satunya yang masih tersedia untuk menggenapkan persyaratan mengajukan Megawati sebagai capres. Jika PDI Perjuangan termakan iming-iming 6 pos menteri di kabinet, maka kandaslah peluang Megawati diajukan sebagai capres oleh PDI Perjuangan. Sebaliknya, ‘koalisi Cikeas’ semakin tak terbendung dengan masuknya PDI Perjuangan.

Bagi Partai Gerindra, harapan untuk tetap mengajukan Prabowo sebagai capres adalah PDI Perjuangan. Tapi karena sama-sama ngotot mengajukan capres, Partai Gerindra mulai melirik partai-partai yang telah bergabung dalam ‘koalisi Cikeas’, siapa tahu ada yang kecewa karena jagoannya tidak dipilih sebagai cawapres dan bisa ‘digarap’ untuk menggenapkan persyaratan mengajukan Prabowo sebagai capres. Tapi peluang untuk Gerindra ini pun telah ditutup rapat oleh Demokrat dengan mundurnya jadwal pengumuman SBY sebagai capres dan cawapresnya pada tanggal 15 Mei 2009. Soalnya, pendaftaran capres dan cawapres berakhir tanggal 16 Mei 2009!

Nah, sekarang mari kita lihat apakah PDI Perjuangan akhirnya masuk ‘jebakan’ (atau lebih tepatnya strategi politik) Partai Demokrat, seperti halnya yang dialami PPP dan PAN. Ataukah partai ini bisa lolos dari ‘jebakan’ seperti yang dialami Partai Golkar? [a]