kasus_nasrudinBENARKAH pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen hanya karena Rani? Mengapa enam tersangka (termasuk eksekutor) dalam kasus pembunuhan ini mempersepsi ‘tugas’ yang diterimanya sebagai ‘misi negara‘?

Hal ini dikemukakan salah seorang pengacara para tersangka, Petrus Ballapatyona. Indikasinya, duit bayaran membunuh diberikan oleh seseorang berseragam polisi yang mengendarai mobil patroli. Itulah sebabnya, ketika ‘menjalankan misi’, mereka tak melakukan penyamaran. Nomor polisi sepeda motor yang mereka gunakan untuk membunuh masih nomor asli, bahkan sepeda motor yang digunakan itu adalah milik pribadi. Begitu pula nomor polisi mobil Avanza yang digunakan untuk memperlambat laju kendaraan Nasrudin sesaat sebelum peristiwa pembunuhan terjadi juga masih merupakan nomor asli. “Semua itu dilakukan karena mereka didoktrin bahwa ini tugas negara. Bahwa ‘sasaran’ membawa dokumen yang membahayakan negara,” jelas Petrus.

Memang, salah seorang tersangka dalam kasus ini yang diumumkan ke publik adalah WW, salah seorang perwira Polisi. Tersangka inilah yang mencari senjata (pistol) yang digunakan tersangka eksekutor. Ia juga yang menyerahkan duit bayaran pada para tersangka pelaku lapangan. Konon, instruksinya pun diberikan di kantor Polisi walaupun hal yang terakhir ini sudah dibantah pihak Mabes Polri.

Antasari Azhar, pejabat tinggi yang disebut-sebut terkait kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen (foto: vivanews.com)
Antasari Azhar, pejabat tinggi yang disebut-sebut terkait kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen (foto: vivanews.com)

Sementara itu, kuasa hukum keluarga almarhum Nasrudin mensinyalir, pembunuhan Nasrudin bukan semata-mata karena Rani. “Masa hanya karena masalah perempuan, [padahal] dua-duanya orang yang punya jabatan penting bisa seperti ini,” kata Boyamin Saiman, pengacara keluarga Nasrudin, kepada wartawan di sebuah restoran di Jakarta, pada Selasa 5 Mei 2009. Menurut Boyamin, kasus pembunuhan Nasrudin tak sesederhana itu. Mungkin saja ada masalah pribadi antara Antasari dan Nasrudin. Namun, tak boleh dilupakan peran korban sebagai pelapor kasus dugaan korupsi di pabrik gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT. RNI). “Berdasarkan penelusuran saya, almarhum banyak tahu tentang kasus RNI yang melibatkan banyak orang. Dugaan korupsinya minimal Rp 1 triliun, bukan hanya satu kegiatan saja tapi sudah berlangsung bertahun-tahun,” kata Boyamin.

Jika benar begitu, berarti apa yang dialami almarhum Nasrudin bisa jadi adalah upaya menghilangkan alat bukti untuk menyelamatkan banyak orang yang mungkin berstatus ‘penting’, sehingga pembunuhannya pun harus dikesankan sebagai ‘misi negara’. Atau, melindungi pejabat tinggi negara yang terlibat kasus pembunuhan bisa juga disebut ‘misi negara’? Polisi harus menjawab teka-teki ini dengan cermat! [a]