protes_buruhHARI ini akan diwarnai sejumlah demonstrasi besar-besaran dari para buruh di seluruh Indonesai. Ya, hari ini adalah hari buruh sedunia. Mari kita telusuri, apa sebenarnya kegelisahan atau apa yang menjadi tuntutan para buruh?

Pertama dan utama, tentu saja adalah masalah peningkatan kesejahteraan. Ini saya kira yang paling penting, sebab kalau bisa memilih, tak ada satu pun insan di muka bumi ini yang ingin hidup tidak sejahtera. Tapi apakah pekerjaan sebagai buruh itu tidak men-sejahtera-kan? Barangkali memang iya, karena kalau mereka sejahtera, mereka pasti tidak akan melakukan aksi unjuk rasa.

Hm…. Tapi kalau memang tidak men-sejahtera-kan, mengapa begitu banyak yang antri, rela untuk menjadi buruh di perusahaan-perusahaan? Jawabannya pasti karena minimnya lapangan kerja yang tersedia, apalagi untuk kelas pekerja yang keterampilannya terbatas. Kalau begitu, kita harus berterimakasih dong, pada orang-orang (pengusaha) yang telah menyediakan lapangan kerja di negeri ini…

Lha ini, bukannya berterimakasih malah demo! Jangan salah paham, demo itu bukan berarti mereka tak pandai berterimakasih. Mungkin masih ada hak-hak normatif mereka yang belum terpenuhi, misalnya soal cuti, tingkat upah, asuransi, pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan sebagainya. Atau ada kebijakan perusahaan yang mereka nilai tidak manusiawi, misalnya tentang pemberlakuan sistem kontrak atau outsourching.

Apa sih outsourching itu? Begini, andai saya punya perusahaan, saya tidak ingin (atau hanya sedikit) mengangkat karyawan tetap demi efisiensi perusahaan. Karena kalau mengangkat karyawan tetap, banyak aturan normatifnya, ada tunjangan ini, tunjangan itu dan lain-lain. Oleh karena itu dalam merekrut karyawan saya lebih senang memakai sistem kontrak atau menggunakan jasa perusahaan yang menyediakan tenaga kerja seperti yang saya butuhkan untuk jangka waktu tertentu. Dengan demikian saya tinggal terima beres saja. Begitu kontrak berakhir, hubungan kerja saya dengan para karyawan itu pun berakhir dan saya akan mengajukan kontrak baru lagi. Kalau mereka bersedia silakan saja, tapi saya pasti selektif. Yang ‘bandel’ pasti deh saya coret dari daftar…. Bukan apa-apa, ini demi kelangsungan usaha saya. Karena kalau usaha saya macet, kerugian saya bukan cuma satu dua juta, belum lagi utang di bank yang harus tetap dibayar karena usaha saya ini awalnya memang dibiayai dengan uang kredit dari bank. Parahnya lagi, kalau usaha saya macet, berarti kan lapangan kerja semakin berkurang…. Dan kasus yang menimpa usaha saya akan menjadi preseden buruk, dan bisa menghambat masuknya investasi baru ke negara ini, karena para investor tentu merasa khawatir.

O… begitu. Ya, kira-kira seperti itulah…. Tapi kan itu kurang manusiawi namanya? Kesannya memang seperti itu. Tapi, lagi-lagi andai saya pengusaha, itu sebenarnya bukan keinginan saya pribadi, melainkan tuntutan zaman. Sekarang era pasar bebas, dan untuk memenangkan kompetisi di pasar, produk kita harus kompetitif dari segi kualitas dan harga. Agar kompetitif, kita dituntut untuk efisien di segala lini produksi, tak terkecuali. Yang menentukan harga bukan saya lho, tapi market (pasar): acuannya adalah suply dan demand (permintaan dan penawaran/ketersediaan). Rakyat sebagai konsumen kan juga menginginkan harga-harga barang itu murah.

Jadi mau tidak mau saya harus menyesuaikan kondisi ini dengan kebijakan produksi di perusahaan saya. Saya membutuhkan dan memiliki karyawan dalam jumlah tertentu. Sebenarnya sih saya ingin semua karyawan saya itu berstatus tetap. Tapi kalau begitu, saya khawatir tak bisa lagi memenuhi kewajiban saya membayar gaji dan semua tunjangan mereka. Saya bisa rugi. Sebagai jalan tengah, hanya sebagian (kecil) dari mereka yang saya angkat jadi karyawan tetap sebagian lagi ya itu tadi, pake sistem kontrak. Ingat, saya ini bukan pemerintah yang punya banyak duit yang setiap saat bisa dipakai untuk membayari gaji para pekerja. Hasil usaha saya, itulah yang saya pakai untuk membayar gaji karyawan saya. Kalau tidak begitu, mana bisa…. Yang namanya usaha, bukan lembaga sosial.

Itu kan bisa-bisanya pengusaha saja. Pengusaha itu kan pandai, punya 1001 alasan untuk berkelit. Sudahlah, jangan berdebat. Kalau tak mau jadi buruh, kembangkan keterampilan dan berusahalah sendiri. Nanti kalau sudah jadi pengusaha seperti saya, lakukanlah yang terbaik untuk karyawanmu. Ajaklah juga kawan-kawanmu, biar jumlah buruh yang antri akan semakin berkurang. Dan jika jumlah buruh yang antri berkurang, maka gaji buruh akan naik dengan sendirinya, dan kesejahteraan buruh akan meningkat tanpa harus berunjuk rasa.

Selama angka pengangguran masih tinggi, maka pengusaha tidak akan kesulitan mencari pekerja. Ini salah satu alasan mengapa pengusaha lebih senang menggunakan sistem kontrak selain alasan efisiensi menghadapi era pasar bebas (foto: bappenas.go.id)
Selama angka pengangguran masih tinggi, maka pengusaha tidak akan kesulitan mencari pekerja. Ini salah satu alasan mengapa pengusaha lebih senang menggunakan sistem kontrak selain alasan efisiensi menghadapi era pasar bebas (sumber: bappenas.go.id)

Apa tidak ada cara lain? Ada, cari perusahaan lain yang menggunakan sistem yang lebih manusiawi. Tapi yang ini pasti susah, karena kalau ada, pasti jadi rebutan. Trus… Kalau langkah ini pun mentok, mintalah pemerintah memberikan subsidi kepada buruh (hitung-hitung sebagai tambahan gaji). Atau mintalah pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai per-upah-an yang pro buruh (misalnya ‘memaksa’ pengusaha menaikkan upah sesuai keinginan buruh). Tapi pemerintah pasti bertimbang tentang pertumbuhan investasi. Soalnya, kalau gaji buruh terlalu tinggi, Indonesia akan dianggap kurang ‘seksi’ oleh investor dan investasi  yang sudah ada bisa lari ke negara lain. Ini masalah juga, karena kalau ini terjadi, berarti lapangan kerja berkurang dan jumlah pengangguran makin banyak.

Kalau langkah alternatif itu mentok juga? Ya, bersabarlah dan jadilah ‘pekerja’ yang baik sambil berdoa. Mudah-mudahan dengan bersabar dan memberikan kinerja terbaik, perusahaan akan memberi apresiasi khusus untukmu. Banyak kok profesional yang sukses membangun karirnya dari level paling bawah di perusahaan. Tuhan itu menyukai orang-orang yang bersabar! Masih percaya Tuhan kan? [a]