logo_golkarGAMANG, kebingungan bersikap, sepertinya tengah melanda Partai Golkar. Sebelum pemilu legislatif 2009, mereka mencalonkan HM Jusuf Kalla (Pak JK) sebagai calon presiden. Selepas pemilu legislatif, mereka meminta Pak JK untuk merapat kembali ke Partai Demokrat karena perolehan suara partai ini ‘jeblok’. Tapi karena tak menemui kata sepakat dengan Partai Demokrat, Pak JK kembali ‘didorong’ jadi calon presiden (capres) melalui forum Rapimnas Khusus yang berlangsung tanggal 23 April 2009.

Belum seminggu berlalu, muncul lagi keinginan untuk kembali merapat ke Partai Demokrat. Adalah Muladi, salah seorang Ketua DPP Partai Golkar, yang mempelopori wacana agar partai beringin ini merapat kembali ke Demokrat. Alasannya Partai Golkar tak siap jadi oposisi dan negosiasi yang dilakukan Pak JK belum membuahkan hasil. Padahal, Pak JK telah melakukan sejumlah lobi politik, di antaranya dengan PDI Perjuangan, Partai Hanura, dan Partai Gerindra. Bahkan di media massa sudah mulai ada dukungan untuk menduetkan Pak JK dengan Prabowo Soebianto karena dua tokoh ini dinilai paling bisa menyaingi popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sikap pimpinan Partai Golkar yang tak konsisten, bisa melemahkan komunikasi politik Pak JK

“Duet JK dan Prabowo bisa mengimbangi Pak SBY dengan siapa pun pasangannya,” kata Effendi Ghazali, pengamat sekaligus pakar komunikasi politik dalam talkshow di tv-one pagi tadi. Beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari juga menyatakan, masuknya Pak JK dalam bursa capres bisa membuat pemilihan presiden berlangsung dua putaran. Hal ini mengindikasikan bahwa komunikasi politik yang dibangun Pak JK dengan sejumlah partai lainnya belum finish. Munculnya wacana untuk kembali merapat ke Demokrat, dalam perspektif komunikasi politik, bisa melemahkan komunikasi politik yang dilakukan Pak JK.

Dalam suatu kabar di tv-one, sejumlah pengurus DPD tingkat II melakukan pertemuan di suatu tempat. Salah seorang di antaranya yang diwawancarai tv-one mengatakan, orang-orang di sekitar Pak JK ‘haus kekuasan’. Awalnya saya mengira orang ini ceroboh mengemukan pendapat karena sejauh ini saya melihat pengambilan keputusan di Partai Golkar selalu berdasarkan aspirasi dari bawah. Tapi kalau aspirasinya benar dari bawah, mengapa perubahan sikapnya bisa secepat itu? Atau ini adalah indikasi ‘keras’-nya dinamika politik di Partai Golkar? Atau Partai Golkar sedang mempertontonkan pelajaran politik tentang konsistensi dalam ke-tidak-konsisten-an? [a]