pdip_golkarJELANG pemilihan presiden, suhu politik di tanah air mulai meningkat. Terutama setelah tawaran ‘rekonsiliasi’ Partai Golkar ‘ditolak’ oleh Partai Demokrat. Penolakan ini tak pelak ‘memaksa’ Partai Golkar untuk kembali merapat ke kubu PDI Perjuangan. Berbagai spekulasi pun muncul, berusaha menganalisa apa makna pertemuan Megawati Soekarnoputri (Bu Mega) dengan Jusuf Kalla (Pak Kalla). Ada apa ya?

Dalam berbagai program wawancara di TV, saya selalu mendengar penyiar (interviewer) mengajukan pertanyaan: “Apakah Bu Mega bersedia jadi cawapres Pak JK?” atau: “Apakah Pak JK bersedia jadi cawapres Bu Mega?” Pertanyaan ini secara bergantian diajukan pada narasumber dari Partai Golkar, PDI Perjuangan dan pengamat politik. Sudah pasti tidak akan ada jawaban yang memuaskan dan pengamat politik manapun pasti menyimpulkan pertemuan Bu Mega dan Pak Kalla akan berakhir ‘buntu’. Tapi apakah benar kedua tokoh ini sedang ‘bernegosiasi’ siapa yang akan jadi capres dan siapa yang akan jadi cawapres? Mengapa tidak ada yang memikirkan bahwa kedua tokoh ini sedang ‘bersiasat’, sedang merancang strategi politik bersama untuk menghadapi pilpres Juli mendatang?

Saya cenderung menilai pertemuan itu lebih dari sekadar menentukan siapa capres dan siapa cawapres. Tapi bagaimana PDI Perjuangan, Partai Golkar, Gerindra dan Hanura menyatakan kesiapan untuk saling mendukung pasca pemilihan presiden, baik di pemerintahan maupun di parlemen (sehingga, pada saat pemilihan presiden telah digelar, hanya akan ada dua blok yaitu blok yang dipelopori oleh Partai Demokrat dan blok yang dipelopori oleh PDI Perjuangan dan Partai Golkar dan Salah satu dari blok ini akan berkuasa dan yang lain akan menjadi oposisi).

Adapun soal capres dan cawapres, pembicaraan mengenai hal ini lebih bersifat taktis. Bisa jadi Bu Mega dan Pak Kalla akan tetap diupayakan maju kedua-duanya sebagai capres. Bu Mega berpasangan dengan Prabowo Soebianto dan Pak Kalla berduet dengan Wiranto.

Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla dalam sebuah pertemuan (negosiasi/lobi politik)

Seperti diketahui, pemilih SBY nantinya adalah masyarakat yang menganggap kinerja pemerintah berhasil. Ini akan berusaha dipecah oleh faktor Pak Kalla yang sebelumnya adalah bagian dari pemerintahan. Pemilih SBY yang juga cukup signifikan adalah masyarakat yang masih menganggap pentingnya figur eks militer memimpin negara ini. Dan lagi-lagi, ini akan ‘dipecah’ dengan masuknya faktor Wiranto dan Prabowo Soebianto. Sebagai oposisi, Bu Mega tentu akan didukung oleh masyarakat yang menginginkan perubahan.

Kalau perolehan suara Pak SBY tidak melebihi 50%, tentu pemilihan presiden akan berlanjut pada putaran kedua. Nah, di sinilai letak ‘nilai strategis’ koalisi PDI Perjuangan dan Golkar. Jika Pak JK tak lolos, maka ia dan Partai Golkar akan menjadi juru kampanye buat Bu Mega dan menjadi bagian dari pemerintahan jika Bu Mega terpilih sebagai presiden. Sebaliknya juga begitu. Dan bila mereka kalah, maka mereka akan beroposisi. [a]