sby-jk-pecahAKHIRNYA, SBY – JK bubar! Mungkin ini jalan terbaik bagi kedua negarawan ini. Dari pada saling menyakiti, memang lebih baik bubar saja. Diawali statemen Achmad Mubarok (Wakil Ketua Umum Partai Demokrat) yang memprediksi perolehan suara Partai Golkar hanya 2,5% yang dinilai ‘melecehkan’ Partai Golkar.

Statemen ini sangatlah tidak etis mengingat Partai Golkar yang dipimpin oleh Pak Jusuf Kalla (JK) yang nota bene adalah Wakil Presiden yang mendampingi Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Statemen yang ‘menyakitkan’ ini dijawab oleh Pak JK dengan menyatakan kesiapannya diajukan sebagai calon presiden oleh Partai Golkar. Ini pun tak etis, sebab Pak JK masih merupakan bagian dari koalisi SBY – JK.

Ketika pemilu legislatif telah berlangsung, dan hasilnya sudah dapat diprediksi berdasarkan hasil hitung cepat, Pak JK menawarkan ‘perdamaian’. Tapi, rupanya Pak SBY ‘tak mudah memaafkan’ Pak JK (walaupun beliau tentu paham bahwa akar masalah dari keretakan hubungannya dengan Pak JK dipicu oleh pernyataan ‘anak buahnya’ sendiri). Inisiatif ‘rujuk’ dari Partai Golkar akhirnya bertepuk sebelah tangan. Lagi-lagi sebuah ‘pukulan telak’ bagi Partai Golkar, khususnya terhadap pribadi Pak JK. Apalagi ada kecenderungan, yang ditolak sebenarnya bukan Partai Golkar, tapi Pak JK. Setelah dua kali ‘dipermalukan’, maka apa yang diputuskan Partai Golkar dalam Rapimnas Khusus siang tadi (23 April 2009), yang menegaskan bahwa partai berlogo pohon beringin ini tidak lagi akan berkoalisi dengan partai Demokrat, adalah sesuatu yang wajar. Dari pada saling menyakiti, lebih baik bubar saja….

Pak SBY dan Pak JK saat masih kompak, bersatu kita bisa!

Selanjutnya kedua partai ini harus saling menghormati. Jangan lagi, misalnya, Partai Demokrat ‘mencomot’ salah seorang kader Partai Golkar (selain Pak JK) untuk mencadi cawapres Pak SBY karena langkah ini akan menimbulkan potensi konflik yang baru. Demikian pula, Partai Golkar harus solid, jangan juga ada faksi-faksi tertentu yang ‘mengemis’ ke Partai Demokrat untuk dijadikan cawapres Pak SBY karena hal ini akan membuat citra Partai Golkar semakin terpuruk. Kali ini Partai Golkar harus belajar konsisten karena konsistensi adalah salah satu aspek yang dipertimbangkan pemilih dalam memilih partai politik. Jangan hanya karena mendapat urutan kedua pemenang pemilu legislatif 2009, lalu niat awal untuk mengajukan calon presiden sendiri dibatalkan.

Memenangkan pemilu legislatif bukanlah jaminan untuk memenangkan pertarungan di tingkat pemilihan presiden. Pada pemilu 1999, PDI Perjuangan memenangkan pemilu legislatif, tapi gagal mengantarkan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden. Fenomena ini berlanjut pada pemilu 2004. Saat itu, Partai Golkar memenangkan pemilu legislatif, tapi pada pemilihan presiden, calon presiden yang diusung yakni Pak Wiranto kalah.

Partai Golkar, walaupun berlabel ‘orba’ merupakan partai politik dengan manajemen paling modern untuk saat ini. Pengambilan keputusan di partai ini sama sekali tidak berdasarkan ‘keinginan’ ketua umum atau dewan pembinanya, tapi melalui penjaringan aspirasi dari bawah (bottom up). Ini adalah kelebihan yang bisa ditonjolkan oleh Partai Golkar mengingat banyak partai besar saat ini yang seolah ‘saham mayoritas’-nya dimiliki oleh satu figur tertentu, sehingga pengambilan keputusannya harus dapat ‘restu’ dari sang figur.

Kembali ke pokok persoalan, syukurlah SBY – JK akhirnya bubar. Dengan demikian (1) kedua tokoh ini (dan juga kedua partai politik di belakang mereka) tak perlu lagi saling menyakiti; (2) penolakan Pak SBY untuk berduet kembali dengan Pak JK akhirnya terwujud dengan sendirinya di sisi lain Pak JK terhindar dari perbuatan yang memalukan Partai Golkar dan pribadinya sendiri; (3) partai Demokrat dan kawan-kawan koalisinya sudah bersih dari unsur orba dan mereka kini bisa membuat ‘orba’ yang baru; (4) memuluskan keinginan PKS untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat sekaligus membuka peluang bagi Hidayat Nur Wahid untuk dipilih oleh Pak SBY sebagai cawapres; (5) peta koalisi menuju pemilihan presiden 2009 semakin seru karena bisa jadi ada tiga blok yang akan ‘bertarung’. [a]