wanita-karir1MITOS Hawa diciptakan dari rusuk nabi Adam pernah membudaya, menyebabkan wanita dipandang sebagai pelengkap pria. Superioritas pria pun menjadi hal yang lumrah. Tapi itu dulu! Sekarang, paham kebebasan mulai menggerogoti mitos tersebut. Kalau dulu wanita hanya dianggap sebagai ‘pelayan’ kaum pria, sekarang mereka memposisikan diri sejajar dengan kaum pria, tak mau lagi berada ‘di bawah’ kaum pria. Pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya ditangani kaum pria, sekarang sudah banyak yang dikerjakan oleh kaum wanita. Dari kuli bangunan, tukang becak, petinju, pemain sepakbola, pilot, direktur perusahaan hingga presiden.

Hari ini kita memperingati Hari Kartini (21 April). Andai saja Raden Ajeng (RA) Kartini masih ada, mungkin ia akan tersenyum bangga melihat perkembangan kaumnya. RA Kartini adalah tokoh nasional yang meletakkan pondasi kesetaraan gender atau emansipasi wanita. Awalnya, ia terdorong oleh keprihatinannya melihat diskriminasi terhadap kaum wanita dalam memperoleh pendidikan yang memadai.

Melalui surat-suratnya yang dikirimkan ke kawan-kawannya di Belanda, ia mencurahkan isi hatinya: tentang keprihatinannya terhadap kaum wanita di tanah air, keinginannya memajukan kaum wanita, dan juga cita-citanya mewujudkan persamaan hak antara kaum wanita dan pria. Oleh kawan-kawannya di Belanda, surat-surat tersebut dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku inilah yang kemudian menjadi pondasi ‘bangunan’ kesetaraan gender di Indonesia.

RA Kartini, tokoh di balik gerakan emansipasi wanita di tanah air (foto: www.monash.edu.au)
RA Kartini, tokoh yang menginspirasi gerakan emansipasi wanita di tanah air. Perjuangan kaum wanita dalam mewujudkan emansipasi atau kesetaraan gender selalu berujung pada dilema yang kadang-kadang butuh pengorbanan…

Gerakan emansipasi wanita di Indonesia, memang telah banyak membuahkan hasil positif. Ditandai dengan semakin banyaknya wanita-wanita intelek yang muncul ke permukaan. Tapi tak dapat dipungkiri, dalam ber-emansipasi, wanita seringkali dihadapkan pada masalah-masalah dilematis sebagai refleksi budaya yang tak jarang disertai konflik (rumah tangga). Inilah tantangan terbesar kaum wanita dalam ber-emansipasi, yaitu menjalankan peran ganda! Tanpa meninggalkan kodratnya sebagai manusia reproduktif, wanita juga harus ‘berjuang’ menjadi manusia produktif. Di satu sisi, kodratnya sebagai ibu mengharuskan untuk mengasuh dan mendidik anak, di sisi lain ia sibuk dengan karirnya. Wanita karir harus membuktikan dirinya sebagai manusia produktif, pada saat yang sama, mereka juga menyadari diri memiliki kelemahan karena kondisi fisiknya yang sering mengalami masa kritis (haid, hamil, dll).

Kegagalan dalam menjalankan peran ganda dapat berujung pada keadaan depresi. Mengantisipasi hal ini, sebagian wanita karir cenderung ‘lari’ dan memilih menjadi wanita lajang. Dan ini artinya si wanita harus membiarkan masa ‘biological clock‘ berlalu begitu saja, yang berarti deprivasi baik dalam hal seksualitas maupun dalam hal memperoleh keturunan. Belum lagi pandangan masyarakat yang selalu negatif terhadap wanita lajang karena terkesan sebagai wanita yang ‘tidak laku’ atau dicap ‘tidak menarik’.

Wanita karir yang berkeluarga pada akhirnya banyak yang mendelegasikan tugasnya sebagai ‘ibu’ pada orang lain. Masalahnya, dapatkah kasih sayang seorang ibu diberikan secara tidak langsung? Secara psikologis, hal ini akan menimbulkan konflik antara ibu dengan si anak. Konflik ini berpotensi mengganggu perkembangan si anak di kemudian hari.  Tak jarang banyak anak yang melakukan ‘protes’ dengan cara yang negatif.

Seiring dengan berkembangnya emansipasi di tanah air, penggolongan wanita berkualitas berdasarkan ukuran kecantikan, daya tarik serta ketaatan beragama mulai ditinggalkan. Kini, wanita berkualitas haruslah berpendidikan tinggi dan terampil dalam kehidupan.

Kenyataan ini menyebabkan peran seksualitas dalam masyarakat juga mengalami pergeseran nilai. Masalah seksualitas mulai dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi kehidupan, bagi seorang wanita (karir). Tapi seiring dengan itu, masalah lain muncul, mengingat bahwa seksualitas pria merupakan dorongan ‘urgensi tinggi’. Kasus-kasus pemerkosaan pun sering kita jumpai dalam pemberitaan. Ini harus diantisipasi oleh wanita karir dalam ber-emansipasi. Tapi membatasi perilaku, penampilan, ruang gerak di luar rumah dan membatasi waktu dan tempat bergaul hanya untuk menyelamatkan diri dari ‘naluri keras’ itu, adalah ‘belenggu’ bagi seorang wanita karir.

Emansipasi wanita ternyata tidak mudah. Perjuangan kaum wanita dalam mewujudkan emansipasi atau kesetaraan gender selalu berujung pada dilema yang kadang-kadang butuh pengorbanan. Semoga suluh yang telah dinyalahkan RA Kartini di hati kaummnya semakin bercahaya. [a]