anggrek-hutanTAK ada aturan baku menulis esai. Bahkan sering kali bertolak belakang dengan menulis ilmiah. Seumpama busana, menulis ilmiah adalah stelan jas  yang dipadu dengan dasi untuk sebuah acara formal. Tapi menulis esai lebih pada busana santai seperti kaos oblong yang dipadu dengan blue jeans.

Moch. Hasymi (Yayasan Pena Indonesia) mengatakan bahwa,  menulis esai pada dasarnya adalah menulis pernyataan cinta. Esai sebagai karangan khas, menyorot persoalan berdasar sudut pandang keterpikatan (ketertarikan) penulisnya atas gejala-gejala yang berlangsung di sekitarnya. Semacam reaksi spontan dari kepekaan batinnya. Sesuatu yang seperti suasana jatuh cinta, mengindikasikan subyektivitas, kehangatan, gairah, emosi dan perasaan lainnya dari sang penulis.

Kalau pada tulisan ilmiah dibutuhkan keberjarakan (unsur subjek sedapat mungkin tak terlibat), rasionalisasi, klarifikasi, serta kategorisasi yang ketat, maka esai adalah sebuah proses psikologis yang menempatkan penulisnya pada posisi yang paling manusiawi. Seperti sikap lugu dari seorang bocah yang spontan bereaksi atas apa yang dilihat dan dirasakannya. Dalam tradisi lisan, esai adalah penuturan seorang penutur dalam sebuah komunitas jamaah di sebuah surau, sebuah bincang-bincang tentang kehidupan yang ringan, rileks, dan penuh humor.

.

ungkapkan-cinta
Menulis esai ibarat mengungkapkan cinta pada sang kekasih. Penulisnya seperti berada dalam suasana jatuh cinta…

.

Seorang penulis esai (atau yang ingin menulis esai) pertama-tama harus mampu ‘menjinakkan’ bahasa dan kata-kata. Mampu menjelaskan atau menggambarkan persoalan rumit dengan bahasa ringan, bahkan mampu mengungkapkan hal-hal yang peka dengan tuturan yang halus sehingga tak perlu ada pihak yang merasa tercederai. Struktur kalimat, kemampuan bernarasi, kemampuan bereksposisi, dan penguasaan gaya bahasa (personifikasi, hiperbola dan metafora dll) adalah keterampilan dasar yang harus dikuasai. Bagi para pemula, bisa melatih diri dengan membuat catatan harian atau menulis surat cinta. Ya, esai itu seperti ungkapan atau pernyataan cinta….

Meski esai terkesan ‘santai’, tapi esai harus tetap logis. Ketika seorang penulis terpikat dan jatuh cinta pada suatu gejala sosial (persoalan), maka segera ia akan menentukan sudut pandang untuk menemukan tema utama dari apa yang ingin ditulisnya. Menemukan ‘masalah’ sebagai dasar penulisan esai tidaklah sulit. Cara yang paling lazim digunakan adalah dengan membenturkan antara ‘yang seharusnya’ dengan ‘kenyataan yang terjadi’. Tentu saja ini membutuhkan kepekaan dan inilah kelebihan penulis esai. Seorang penulis esai yang sudah cukup dikenal  Sinansari Ecip (dosen saya di Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas) pernah berujar: bagi penulis esai, sebutir kerikil pun bisa melahirkan esai yang baik. Tinggal bagaimana penulis mengembangkan imajinasinya.

.

anggrek2
Seumpama bunga, esai itu seperti anggrek liar di hutan. Daya tariknya adalah keindahannya yang alami dan belum tersentuh proses penataan…

.

Setangkai anggrek liar di hutan, kelebihannya adalah keindahannya yang alamiah dan belum tersentuh proses penataan. Esai pun demikian, struktur dan bentuknya selalu menonjolkan ke-alamiah-an. Karena itu, struktur dan bentuknya tidak mengikuti pola penulisan ilmiah. Struktur penulisan esai bisa sangat beragam, tergantung pada suasana hati penulisnya. Bisa berstruktur literer (membahas mulai dari A sampai Z dengan sistematika runtut), bisa pula dengan urutan kronologis dengan klimaks pada ending dengan atau tanpa mencantumkan satuan waktu. Dapat pula berupa surat cinta, mengandaikan pembaca adalah ‘engkau’ (orang yang diajak berbicara atau berdiskusi).

Satu hal lagi, esai dengan ke-khas-annya bertujuan hanya sekadar melukiskan gejala (persoalan) tanpa harus mencari dan menyertakan solusi untuk suatu persoalan. Oleh karena itu jangan kecewa, jika sehabis membaca esai, tak ada solusi yang ditemui. Inilah bedanya esai dengan karya ilmiah. [a]