foto_mega_kompas1DIAM itu emas, sebuah ungkapan yang cool untuk orang yang sedikit bicara. Ya, seperti Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Nama lengkapnya Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, putri kedua Presiden Soekarno dan merupakan presiden kelima di Indonesia. Dibanding dengan perempuan lainnya di Indonesia, Megawati Soekarnoputri yang akrab disapa Bu Mega, sungguh beruntung karena ia adalah perempuan pertama di Indonesia yang jadi presiden. Sesuatu yang menurut saya tidak mudah, mengingat kebanyakan masyarakat Indonesia tidak sreg dengan pemimpin perempuan, apalagi presiden perempuan.

Tak salah menyebut Bu Mega sebagai perempuan sejati! Bu Mega menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ‘tengah jalan’. Ia menjadi presiden hanya tiga tahun. Mungkin karena masih ‘penasaran’, Bu Mega ingin melanjutkan jabatannya sebagai presiden pada periode selanjutnya. Tapi pada pemilihan presiden tahun 2004, ia kalah bersaing dengan tokoh politik lainnya, SBY.

Kalah dalam pemilihan presiden tahun 2004 tidak membuat Megawati Soekarnuputri berkecil hati dan mundur dari kancah perpolitikan Indonesia. Ia tetap bertekad untuk kembali ‘bertarung’ dalam pemilihan presiden tahun 2009. Sayangnya, pada pemilu legislatif yang berlangsung tanggal 9 April 2009, PDI Perjuangan, partai yang dipimpinnya, hanya mendapatkan suara sekitar 14 – 15%. Ini tentu suatu pertanda buruk bagi Bu Mega, sebab untuk dapat mengajukan calon presiden, partai politik minimal harus mengantongi 25% suara atau mendapatkan 20% kursi di DPR-RI. Sebenarnya tidak juga terlalu susah. Berkoalisi dengan beberapa partai tengah dan partai kecil sudah dapat menyelesaikan masalah ini. Tapi sesungguhnya bukan ini yang dirisaukan Bu Mega.

.

Megawati Soekarnoputri, pemimpin perempuan yang tidak banyak bicara. Baginya, diam itu emas…

.

Ya, masalah elektabilitas rival utamanya, Pak SBY, yang semakin hari semakin tak tertandingi. Pada pemilu 2004 saja, Partai Demokrat yang memperoleh kurang lebih 7% suara, mampu mengantarkan Pak SBY jadi presiden. Sekarang, partai binaan Pak SBY itu mengantongi sekitar 20% suara. Sementara perolehan suara PDI Perjuangan justru mengalami penurunan secara signifikan. Padahal, sebagai oposisi, PDI Perjuangan telah membuktikan kiprahnya dengan mengkritisi semua kebijakan pemerintah selama lima tahun terakhir. Hampir tak ada kebijakan pemerintah yang lolos dari amatan para kader PDI Perjuangan di parlemen.

Pramono Anung, salah seorang fungsionaris PDI Perjuangan, dengan bangga mengumumkan atau memproklamirkan di media bahwa PDI Perjuangan adalah satu-satunya partai yang ‘jenis kelamin’-nya jelas yakni oposisi. Partai Demokrat, setelah sukses mengantarkan Pak SBY sebagai presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 lalu, otomatis menjadi partai berkuasa. Jadi, selain PDI Perjuangan, partai lain yang jelas ‘jenis kelamin’-nya adalah Partai Demokrat. Jenis kelamin di dunia ini ada dua, yakni laki-laki dan perempuan. Dan Karena merupakan pemenang dan menjadi partai berkuasa, maka kita andaikan jenis kelamin Partai Demokrat adalah ‘laki-laki’. Mengaca pada pemilu legislatif kemarin, mungkin, masyarakat Indonesia sangat terkesan dengan kiprah PDI Perjuangan di parlemen sebagai oposisi, sehingga mereka menginginkan partai yang dipimpin Bu Mega ini tetap sebagai ‘perempuan’ sejati! [a]