Pemilu tahun 1992 di Papua (http://blog.massdog.com)KOMISI Pemilihan Umum (KPU) adalah pelaksana pemilu yang independen. Sukses pemilu tergantung kesiapan KPU. Semakin baik persiapan KPU, semakin berkualitas hasil pemilu. Demikian pula sebaliknya. Pada pemilu legislatif 2009 ini, banyak ‘persoalan’ yang terjadi. Apakah ini indikasi ketidaksiapan KPU?

Masa kerja anggota KPU kurang lebih lima tahun. Waktu selama ini harusnya cukup untuk mempersiapkan pemilu agar berlangsung dengan baik, meski anggota KPU hanya tujuh orang. Lalu mengapa masih banyak persoalan yang muncul? Ironisnya, persoalan yang terjadi tak jauh dari apa yang terjadi pada pemilu sebelumnya.

Dalam prinsip manajemen, kita diajarkan untuk selalu mengevaluasi suatu pekerjaan. Hasil evaluasi ini digunakan untuk memperbaiki kualitas pekerjaan pada periode selanjutnya. Kesalahan-kesalahan, ketidaksempurnaan atau kegagalan dalam pekerjaan sebelumnya harus diperbaiki dalam pekerjaan selanjutnya. Terkait dengan masalah kesiapan KPU ini, kita layak bertanya: apakah mereka tidak ‘belajar’ dari pelaksanaan pemilu-pemilu sebelumnya? Sebab masalah yang terjadi, kebanyakan adalah pengulangan dari pemilu sebelumnya, terutama menyangkut DPT atau daftar pemilih tetap dan pengiriman logistik pemilu yang tidak tepat waktu (terlambat).

Kisruh DPT menyebabkan banyak masyarakat tak bisa menggunakan hak pilih karena tidak terdaftar dalam DPT. Padahal, dalam DPT, banyak terdapat pemilih fiktif, pemilih yang namanya double (berulang), dan pemilih yang sudah pindah atau meninggal. Akibatnya jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya meningkat. Sementara itu, pengiriman logistik yang terlambat menyebabkan banyak daerah yang baru dapat melaksanakan pemungutan suara pada tanggal 10 April 2009. Tidak itu saja, di beberapa tempat, juga terjadi surat suara tertukar antar daerah pemilihan yang baru diketahui saat pencontrengan, sehingga harus dilakukan pemungutan suara ulang. Kotak suara juga banyak yang dipermasalahkan karena tak tersegel dengan baik, bahkan ada yang dengan leluasa dapat dibuka tanpa saksi. Alasan mengenai sulitnya medan di beberapa daerah, terutama di Papua, sebagai penyebab keterlambatan pengiriman logistik pemilu tentu tak bisa diterima sepenuhnya.  Sebab pada pemilu-pemilu sebelumnya, medannya sudah seperti itu.

Ketika masih mahasiswa dulu, ada kebiasaan buruk yang sering saya lakukan menjelang ujian semester dan ini dialami hampir semua mahasiswa. Metode belajar SKS atau sistem kebut semalam! Enam bulan saya diberi waktu untuk untuk mempersiapkan diri menghadapi ujuan, tapi yang saya gunakan untuk belajar hanya semalam suntuk. Tentu hasilnya tidak akan pernah optimal. Saya khawatir, dalam konteks pemilu 2009 ini, KPU mengalami ‘penyakit’ yang mirip metode SKS pada waktu saya kuliah ini. Semua dikerjakan last minute

Tulisan ini tak bermaksud menuding KPU sebenarnya tidak atau belum siap menyelenggarakan pemilu 2009. Hanya ingin menegaskan bahwa kesiapan itu penting. Hasil pemilu legislatif 2009 yang baru saja dilaksanakan akan ‘ternoda’ jika di kemudian hari terbukti ada masalah serius dalam pelaksanakan pemilu 2009 ini. Kemenangan menjadi tidak afdal, sementara mereka yang kalah tidak ihlas menerima kekalahan. [a]