pelajaran pemilu 2009: (1) tentang ketokohan…

tokoh_soekarno1PARTAI politik boleh banyak, tapi tokoh atau figur yang berkenan di hati rakyat boleh jadi hanya ada satu, atau dua, atau tiga…. Tidak banyak! Dan karena itulah, partai politik yang akan mendapatkan suara signifikan dalam pemilu legislatif hanyalah partai-partai yang memiliki ‘tokoh’ dengan ketokohan yang kuat. Pemilu legislatif 2009 baru saja berlalu dan memberi pelajaran pada kita mengenai fariabel ‘ketokohan’ itu.

Kita mengenal sejumlah ‘tokoh’ dengan ketokohan yang kuat berada di balik partai-partai yang bertarung dalam pemilu legislatif kali ini. Ada Susilo Bambang Yudhoyono (Partai Demokrat), Megawati Soekarnoputri (PDI Perjuangan), HM. Jusuf Kalla (Partai Golkar), Hidayat Nur Wahid (PKS),  dan Amin Rais (PAN). Pada akhirnya, hanya partai beliau-beliau inilah yang mendapat suara signifikan dalam pemilu legislatif yang baru saja berlalu. Semakin kuat derajat ‘ketokohan’ sang tokoh, akan semakin banyak pemilih yang memilih partainya. Partai-partai politik yang tidak memiliki tokoh yang kuat, susah untuk merebut simpati pemilih yang makin cerdas, dan pada akhirnya harus berhadapan dengan aturan parliamentary treshold atau electoral  treshold.

Dalam kasus pemilu legislatif 2009, tentu kita sudah dapat menyimpulkan bahwa di antara tokoh-tokoh yang saya sebutkan sebelumnya, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) memiliki derajat ketokohan paling kuat, tapi bukan berarti yang lainnya ‘lemah’ karena derajat ketokohan ini sebenarnya juga fluktuatif (berfluktuasi). Dulu, ketika Pak SBY masih menjabat sebagai Menkopolkam, derajat ketokohannya biasa-bisa saja. Waktu itu justru derajat ketokohan Megawati Soekarnoputri yang berada di puncak. Lalu, pada fase awal reformasi, siapa yang tak kenal Amin Rais? Jusuf Kalla (JK) juga demikian. Awalnya, JK bukan siapa2 di Partai Golkar, tapi setelah terpilih sebagai Wapres mendampingi Pak SBY, bebrapa waktu kemudian JK didaulat menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Nah, karena derajat ketokohan ini bersifat fluktuatif, maka ia perlu di-manage dengan baik melalui pencitraan dengan berbagai cara. Bisa lewat kampanye media (iklan TV dll) dan melalui kinerja (karya nyata). Dan memang kita harus akui, berdasarkan konteks waktu dan tempat, Pak SBY memiliki peluang lebih besar dan lebih baik dalam me-manage atau lebih tepatnya meningkatkan derajat ketokohannya dan ini terbukti (hal ini didukung pula oleh kecenderungan masyarakat yang lebih sreg dengan tokoh militer).

Itulah sebabnya Megawati (PDI Perjuangan) yang berada dalam posisi oposisi tak berkutik. Sementara itu, walau berada pada jalur yang sama dengan SBY (Demokrat), Golkar, PKS, PAN gagal memanfaatkan ‘keberhasilan pemerintah’ dalam menaikkan rating tokoh-tokohnya dan karena kegagalan ini maka kerja-kerja brilian mereka selama di pemerintahan pada akhirnya hanya bernilai ‘kerja bakti’.

Pelajaran mengenai ketokohan ini, sebenarnya, juga memberi signal untuk pertarungan selanjutnya: pemilihan presiden (Pilpres) 2009. Tokoh-tokoh yang sebelumnya berambisi jadi presiden pada akhirnya hanya memiliki tiga pilihan sesuai watak mereka. Yang oportunis, pasti cenderung mengurungkan niatnya untuk kemudian bergabung (berkoalisi) dengan Pak SBY yang lagi naik daun. Yang kreatif akan mencari pasangan yang tepat untuk menyaingi popularitas Pak SBY. Terakhir, yang nekad akan tetap maju begitu saja…. [a]

 

Advertisements

6 thoughts on “pelajaran pemilu 2009: (1) tentang ketokohan…

  1. Megawati berperan besar atas populernya SBY saat awal 2004 kemarin. Kalo saia ga salah ingat [waktu saia masih SMA sih, belum terlalu intens mengikuti politik] dulu SBY dihentikan Megawati sbg Menkopolkam. Nah karakter masyarakat Indonesia yg mudah terharu [liat aj pemenag AFI 1 yg kualitas voklnya kurang tapi juara] membuat SBY justru mendapat simpati dari masyarakat. Jadi Megawati-lah yg bertanggung jawab atas populernya SBY saat itu dan juga skrg atas serangan Megawati atas BLT.

    Ada dua partai yg sebenarnya tanpa tokoh tapi membuat kejutan bisa masuk 10 besar. Pertama PKS. Di PKS saia kira tdk ada tokoh yg benar2 dijadikan figur. Memang HNW adalah kader paling menonjol tapi itupun saia kira itu adalah setting dari mereka agar sewaktu2 jika diperlukan ya HNW yang dijadikan tokoh. Militansi kader mereka dan citra bersih itu yg saia kira ngangkat PKS.

    Kedua PKB. Ditinggal Gus Dur dan ada instruksi dari Gus Dur buat pendukungnya utk milih Gerindra, ternyata suara PKB tetap tinggi. Tampaknya ketergantungan PKB atas Gus Dur sudah hilang, tapi dg NU masih sagat bergantung.

    ^_^

    [a]: Ya, itu benar kawan. Kekalahan Megawati saat ini disebakan kesalahannya sendiri di masa lalu. Iya kan? Soal PKS, partai ini memang partai kader. Tapi kader saja tidak cukup kan? Andai PKS memiliki tokoh yang benar-benar kuat, pasti perolehan suaranya lebih tinggi. Nah, kalau PKB, ini memang aneh di mata saya. Walaupun jelas-jelas tidak didukung Gus Dur, tapi masih dapat suara yang lumayan. Saya kadang berfikir kalau warga NU sebenarnya tidak ‘patuh’ lagi pada Gus Dur… Tapi semoga saya salah….

    • Itulah mengapa dulu PKS mengeluarkan iklan yg me-nyebut2 Soeharto sbg guru bangsa. Itu saia kira solusi dari mereka yg tdk mempunyai figur itu. Juga dg membuat banyak singkatan2 PKS yang diantaranya Partai Kita Semua itu hehehe….

      Soal NU sepertinya mereka masih hormat pd Gus Dur tapi untuk patuh, nanti dulu kayaknya….

      ^_^

      [a]: Sekiranya masih memungkinkan, menurut saya, lebih baik kalau PKB berdamai kembali dengan Gus Dur….

  2. Kalau PKB kayaknya memang sudah tidak bergantung sama gus dur, habis gus dur nyeleneh sih, harusnya gus dur itu tidak boleh egois, harus bisa menjadi orang tua dari bangsa ini…. makanya para pengikut pkb ya tetep setia sama pkb-nya.

    [a]: Yoi. Gus Dur mestinya jadi guru bangsa saja….

  3. Kungjungan balik nih mas,tapi saya tidak bisa koment apa2 soalnya aku cuma rakyat biasa yang bukan penamat politik… mas gimana cara masang widget angim mamiri di sidebar atas itu mas. soalnya aku juga orang sul-sel.

    [a]: Makasih…. soal banner itu, sudah saya jelaskan via email ya… Sukses!

  4. Pingback: Kenapa Golkar Bisa Kalah?? « Yasir Alkaff

  5. Saya justru ada pertanyaan..sebenarnya yg layak di sebut sebagai tokoh nasional di negri ini itu yg seperti apa???
    saya kira yg layak di sebut sbg tokoh nasional adalah seorang figur yg tulus membangun negri ini, mensejahterakan rakyat negeri ini, menumbuhkan rasa perasatuan dan kesatuan masyarakat negeri ini dan memberikan rasa aman serta nyaman hidup di bumi pertiwi indonesia ini…
    apa yg mereka lakukan utk negeri ini…??? 😦 bikin rakyat bodoh seperti saya semakin bingung… *menggebu-gebu* :mrgreen:

    salam,

    [a]: Salam kenal juga Mas Didien…. Pendapatmu tentang tokoh nasional itu mungkin benar, tapi saya tidak bercerita tentang tokoh nasional. Saya hanya membahas masalah ketokohan dari tokoh-tokoh (politik) yang ada…. Mengapa anda merasa tokoh-tokoh itu membuat rakyat bodoh (seperti anda yang semakin bingung)? Sebagai bagian dari rakyat, saya tidak merasa telah dibodohi oleh mereka…. Saya enjoy saja tuh, melihat mereka bermanuver dan saling sikut…. Seperti kata lagu, emang gue pikirin…. 🙂 *peace*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s