Kekuatan Alami, Ilmiah atau Ponari?

ponari-dan-batu-ajaibnyaDALAM tradisi pengobatan di Indonesia (dan mungkin juga di beberapa bagian dunia) terdapat tiga ‘kekuatan’ penyembuhan. Kekuatan alami, kekuatan ilmiah dan yang belakangan muncul dan menjadi fenomenal adalah kekuatan ‘Ponari’.

Kekuatan alami adalah tradisi penyembuhan penyakit menggunakan khasiat tumbuh-tumbuhan (daun, akar pohon, dll), dan berbagai jenis hewan tertentu. Sebelum ada penyembuhan modern, masyarakat menggunakan metode ini untuk menyembuhkan penyakit. K
ekuatan alami menyebuhkan dengan metode coba dan salah (jika tidak terbukti, coba yang lain lagi). Karena sudah teruji cukup lama dengan metode ini, dan karena sifatnya yang tanpa efek samping, tradisi ini masih berlangsung dan cukup diminati. Sejumlah bahan-bahan alami yang kita kenal saat ini tidak diragukan lagi khasiatnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, kekuatan alami dikembangkan oleh para ahli (peneliti) menjadi kekuatan ilmiah, dengan memcampurkan zat-zat pada tumbuhan atau hewan tertentu menjadi obat-obatan yang bisa menyembuhkan penyakit. Proses pembuatan obat ini tidak asal-asalan, tetapi menggunakan metode ilmiah dengan pengawasan yang ketat. Proses penyembuhan dengan tradisi ilmiah ini pun tidak sembarangan. Pasien harus didiagnosa lebih dulu. Setelah itu baru dicarikan obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Jauh sebelum keluatan ilmiah dan kekuatan alami menjadi tradisi pengobatan penyakit, masyarakat jaman dulu menggunakan benda-benda yang dianggap keramat/sakti untuk menyembuhkan penyakit. Orang yang memiliki benda-benda itu kemudian menjadi terkenal dan disegani sehingga dijuluki sakti mandraguna. Pada waktu itu, tingkat pendidikan masyarakat memang masih rendah karena memang belum ada sekolah.

Seiring dengan meningkatnya taraf pendidikan masyarakat, tradisi pengobatan menggunakan benda-benda sakti itu mulai ditinggalkan, walau tidak sepenuhnya. Akan tetapi, penyakit juga berkembang, sehingga kekuatan alami saja tidak lagi memadai. Sekarang, penyembuhan penyakit harus menggunakan kekuatan ilmiah. Maka digalakkanlah penelitian terhadap sejumlah bahan-bahan alami, diolah sedemikian rupa, bahkan ada yang dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, yang kemudian menghasilkan obat-obatan untuk berbagai jenis penyakit. Walhasil, obat-obatan itu terbukti sangat efektif dan cepat dalam menyembuhkan penyakit.

Sayangnya, ketika obat-obatan itu ditemukan, kebudayaan masyarakat (termasuk para peneliti dan penemu obat, para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya) sampai pula pada fase kapitalisme. Segelintir orang yang memiliki modal besar menganggap obat-obatan itu sebagai komoditi yang jika diperdagangkan pasti akan laris manis selama manusia masih sakit-sakitan, dan pada dasarnya manusia memang akan selalu sakit. Maka dibangunlah pabrik-pabrik obat,  jadilah apotik dan lain sebagainya. Singkat kata, tiba-tiba harga obat terasa berat di kantong, makin lama makin tak terjangkau. Dalam keadaan seperti ini, kesehatan menjadi mahal harganya. Hanya orang-orang berdompet tebal yang bisa mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dalam arti yang sebenarnya.

Pada dasarnya, semua orang rasional dan mengakui efektivitas kekuatan ilmiah dalam pengobatan. Tapi karena biayanya yang mahal (tak terjangkau), hanya orang-orang tertentu yang dapat menikmati pengobatan yang memadai nan ilmiah itu. Lalu orang-orang rasional tetapi uang di dompetnya pas-pasan, kembali ke kekuatan alami yang sudah teruji, walaupun lama proses penyembuhannya. Beberapa di antara mereka berhasil dalam pengobatan ini, tapi sebagian besar justeru frustasi karena kurang bersabar, karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Dalam ke-putusasa-an, rasionalitas mereka menguap. Mereka butuh pengobatan yang murah tapi bisa cepat sembuh.

Maka, ketika di media massa mereka mendapat informasi ada Ponari yang bisa menyembuhkan penyakit mereka dengan cepat menggunakan batu ajaib yang sakti, mereka berbondong-bondong datang ke rumah Ponari. Tak peduli kalau Ponari hanyalah seorang anak kecil, yang seharusya masih bersekolah. Tanpa sadar, mereka kembali menggunakan kekuatan pengobatan menggunakan benda-benda keramat yang sebenarnya tidak berdasar, dan sekarang berlabel ‘kekuatan Ponari’. Apa mereka salah? [a]

Advertisements

2 thoughts on “Kekuatan Alami, Ilmiah atau Ponari?

  1. ya salah to ya…

    perlu dicatet, yg berobat ke ponari bukan cuma orang miskin, banyak juga yg bermobil lo… ini berarti kalo ndak pelit, ya irrasional, ndak sabaran, maunya mudah, murah, cepat pula, belum lagi ego-nya (ndak ada belas kasihannya sama si ponari).
    tingkah seperti ini yg bikin bangsa kita ndak maju2

    yang kasian dokter sekarang. dikit2 kena sue…
    pasien disuruh minum obat 6 bulan ndak nurut, virus makin kebal, penyakitnya ndak sembuh2, dibilang dokternya bodo…
    pasien ditanya riwayat kesehatan bilangnya ndak apa2, dikasi obat jadi alergi, bengkak2, dokternya dibilang malpraktek.
    pasien ditanya nona / nyonya tersinggung, maksa minta pap smear, pas uda nikah dokternya yg disalahin.

    gimana ya cara mendidik orang2 “sakit” gini?

    [a]: Kalau menurut saya sih, harga obat-obatan harus dibuat semurah mungkin, agar terjangkau. Demikian pula tarif pelayanan kesehatan…. Masalah kesehatan ini beda dengan masalah pendidikan walau dua-duanya penting. Kalau masalah pendidikan, gak apa2 mahal karena sifatnya optional (bisa ditunda). Tapi kesehatan? Itu wajib, mana ada orang yang mau sakit! Saat jatuh sakit, semua pasti ingin berobat. Di saat berobat itulah kadang muncul frustrasi. Terutama karena tarif atau harga obat yang mahal….

    Soal orang kaya yang ikut2an berobat ke Ponari, jelas mereka adalah orang yang irasional dan kemungkinan ini disebabkan tingkat pendidikan mereka yang rendah (tidak semua lho orang kaya berpendidikan tinggi).

    thanks sudah mampir di blog saya, salam kenal…. 🙂

  2. sekarang banyak orang tidak berfikir secara rasional, tapi itu biasa terjadi pada orang yang memang lagi kepepet pengen sembuh yg akhirnya menghalal segala cara..semoga saja mereka mendapatkan pengajaran dari apa yang telah mereka coba lakukan dan kembali berfikir secara logika… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s