ilustrasi-cerpen_31KETIKA kuputuskan menikah dengan Rina, pacarku, banyak teman yang tidak setuju. Alasannya klasik, tapi masuk akal. Waktu itu aku memang belum menyelesaikan kuliahku di salah satu universitas negeri di Makassar. “Menikah itu gampang, konsekuensinya yang susah,” begitu kata mereka.

Arah pembicaraan mereka tentulah soal bagaimana aku menafkahi istriku nanti, sementara aku belum memiliki penghasilan. Bukan berarti aku tidak memikirkan masalah ini. Aku sudah mendiskusikannya dengan orang tuaku dan mereka memberi lampu hijau untuk tetap memberiku ‘subsidi’ sampai kuliahku rampung. Alih-alih untuk menyelesaikan tanggung jawab menyekolahkan anak.

Aku berniat menikah karena ingin berhenti pacaran! Perbuatan yang kuyakini salah, namun telah kujalani bersama Rina sejak tiga tahun lalu. “Pacaran itu nggak dibenarkan dalam agama kita, Mas Ari,” kata Yusuf seorang kawan berasal dari Pulau Jawa yang belum lama kukenal. Ia adalah satu dari sedikit mahasiswa yang aktif di forum kajian islami di kampus. Sebagai muslim, sebenarnya, sejak awal aku sudah mengetahui hukum pacaran itu. Namun gelombang westernisasi yang begitu sistematis menerpa membuat aku dan sebagian besar kaum muda muslim di negeri ini pura-pura tidak tahu.

oOo

Tekadku sudah bulat, pacaran harus kuakhiri. Pilihannya hanya dua: putus dengan Rina atau menikah dengan Rina dalam keadaan seperti ini, belum memiliki penghasilan. Walau berat, aku memilih opsi kedua, tentu saja aku sudah siap dengan segala konsekuensinya!

Di sebuah rumah petak tak jauh dari kampus, aku membina rumah tangga bersama Rina. Prinsip hidup apa adanya membuat kami bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari meski hanya mengandalkan ‘subsidi’ dari orang tuaku. Tak ada masalah, kuliahkupun lancar.

Masalah baru muncul saat aku menyelesaikan kuliahku. Pikirku, aku akan segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmuku. Ternyata tidak semudah dan sesederhana yang kubayangkan, meski aku telah mendatangi perusahaan-perusahaan yang menurutku dapat memanfaatkan tenagaku. “Maaf, perusahaan kami belum memiliki lowongan yang cocok untuk kualifikasi Anda,” begitu kata manajer personalia sebuah perusahaan yang kukunjungi, menolak lamaranku. Jawaban yang hampir sama kudapat dari perusahaan-perusahaan lainnya yang kukunjungi. Sesekali memang pernah kutemukan iklan lowongan kerja yang cocok dengan kualifikasi yang kumiliki. Bisa ditebak, perusahaan pemilik iklan itu akan kewalahan menyeleksi aplikasi yang masuk.

Sekali waktu aku mendapatkan panggilan wawancara. Namun kali ini, aku kembali gagal! Perusahaan itu mencari tenaga berpengalaman. Aku memang belum berpengalaman, tapi bukan berarti aku tidak bisa bekerja dengan baik! Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Rupanya krisis ekonomi berkepanjangan yang pernah melilit negeriku beberapa tahun silam menyebabkan banyak perusahaan sangat selektif dalam memilih tenaga kerja. Bahkan banyak di antara mereka yang melakukan efisiensi dengan mengurangi pos-pos pekerjaan yang tidak begitu penting untuk mengimbangi biaya produksi yang meningkat.

Harapan para pencari kerja sepertiku, akhirnya tertuju pada instansi pemerintah. Tapi karena pencari kerja terlalu banyak, sementara pos penerimaan tidak bertambah, menjadi PNS (pegawai negeri sipil) bukanlah hal yang mudah. Bahkan, seperti yang sering diberitakan di koran, penerimaan PNS seringkali beraroma kolusi dan nepotisme. Akhirnya, pengangguran sepertiku bertambah banyak.

Aku mulai dihinggapi frustrasi. Hari-hariku kurasakan semakin suram. Untunglah orang tuaku tidak serta merta menghentikan subsidinya untukku, meski kini tinggal seperduanya. Sebagai tambahan biaya hidup yang terasa semakin mahal akibat naiknya harga sembako pasca penyesuaian harga BBM, aku bekerja sebagai juru ketik di sebuah rental komputer. Hasilnya lumayan, meski tetap terasa kurang. Apalagi rahim Rina, istriku, mulai mengandung benihku sejak enam bulan lalu. “Menikah itu mudah, konsekuensinya yang susah.” Terbayanglah wajah teman-temanku yang dulu mengingatkan agar aku tidak gegabah untuk menikah. Mereka menertawaiku!

“Jangan putus asa, Kak. Allah sangat membenci orang yang berputus asa. Percayalah, Allah swt tidak memberi cobaan, kecuali sebatas kemampuan hamba-Nya,” kata Rina suatu waktu, usai makan malam. “Suatu saat Allah SWT pasti menghargai usaha kita dan mengabulkan doa kita. Pasrahkan segalanya kepada-Nya.” Istriku Rina selalu bisa mengembalikan semangatku saat aku mulai rubuh dalam keputusasaan. Beruntunglah aku mendapatkan istri seperti dia. Tak pernah kudengar ia mengeluh, padahal aku nyaris tak pernah memenuhi kebutuhan sekundernya.

Waktu terus berlalu. Sebentar lagi Rina, istriku, akan melahirkan buah hati kami. Aku sudah berada di ambang keputusasaan. Ketabahan dan kesabaran istriku yang selalu manjur mengembalikan semangatku pun mulai terkikis. Beberapa kali sempat kupergoki ia menitikkan air mata….

oOo

Dalam sebuah riwayat, seorang ulama pernah didatangi tiga orang yang menyampaikan tiga keluhan yang berbeda. Orang pertama menyampaikan keluhan bahwa di kampungnya, petani tidak bisa lagi bertani akibat dilanda kemarau berkepanjangan. Ulama ini memberi nasehat yang pada dasarnya meminta warga kampung itu untuk memperbanyak istighfar. Orang kedua mengeluh karena sudah lama menikah, tapi belum juga dikaruniai anak. Ulama ini tersenyum dan hanya memberi nasehat yang singkat: perbanyak istighfar. Orang ketiga kemudian menghadap ulama ini dan menyampaikan keluhannya. Ia merasa kemiskinan seolah tak mau beranjak dari hidupnya. Ulama ini lagi-lagi hanya memberi jawaban yang singkat: pulanglah dan perbanyak istighfar…!

Sebelum kembali ke kampung, ketiga orang tersebut bertemu dan berbagi cerita. Mereka tak habis pikir, mengapa ulama ini memberikan jalan keluar yang sama kepada mereka padahal mereka datang  membawa masalah yang berbeda satu sama lain. Mereka pun memutuskan untuk kembali menemui sang ulama. Namun ulama ini lagi-lagi hanya memberi nasehat pendek: pulanglah dan perbanyak istighfar!

Alhasil, setahun berlalu, orang pertama kembali menemui ulama itu dan mengabarkan bahwa para petani di kampungnya sudah kembali bertani dan panen mereka berhasil. Hanya saja, karena ’kelebihan’ hujan, mereka kini terancam banjir. Ulama ini lagi-lagi hanya meminta warga untuk memperbanyak istighfar agar hujan tidak menjadi bencana di kampung mereka. Dua tahun berselang, orang kedua pun datang dan mengabarkan pada ulama ini bahwa ia dan isterinya telah dikaruniai banyak anak karena setiap melahirkan, anak mereka selalu kembar. Namun, sampai tahun ketiga, orang ketiga tak kunjung datang. Sang ulama kemudian mengutus seseorang untuk mencari kabar mengenai si orang ketiga ini. Ternyata, si orang ketiga tidak bisa datang karena sibuk mengurusi hartanya!

Riwayat ini disampaikan oleh seorang Ustadz dalam satu kesempatan khutbah Jumat di masjid. Istighfar! Pikiranku menerawang jauh ke masa sebelum menikah, saat masih berpacaran dengan Rina. Astaghfirullah al’adzim, terimalah taubat kami ya Allah Rabbul alamin. [a]

{Cerita Pendek, karya Asmar Abdullah – Makassar, 5 Maret 2009}