logo-pemilu_12PADA pemilu legislatif (pileg) 9 April 2009 nanti, satu hal yang sudah hampir pasti: Partai Demokrat akan menjadi partai paling spektakuler prosentase peningkatan perolehan suaranya, bahkan bisa dua kali lipat dari hasil yang diraih pada Pileg 2004 lalu.

Karena jumlah pemilih tidak bertambah signifikan (ada yang masuk dan ada yang keluar), lantas dari manakah Partai Demokrat mendapatkan suara tambahan selain pemilihnya pada Pileg 2004 lalu? Kemungkinannya (1) dari pemilih partai-partai besar yang sudah eksis; (2) swing voters dan pemilih pemula;  atau (3) dari pemilih partai-partai kecil. Tapi kalau dari partai kecil, rasanya agak susah. Karena partai kecil itu mendapatkan suara dari perjuangan ‘susah payah’ calon legislatif (caleg) mereka. Yang lebih mungkin adalah mengambil ‘sebagian’ atau ‘sebagian besar’ dari swing voters dan pemilih pemula. Tapi ini tergantung mood, karena swing voters dan pemilih pemula tidak homogen dan cenderung kritis. Mereka yang pada akhirnya memilih Partai Demokrat pastilah yang pro pemerintahan sekarang dan menganggap prestasi pemerintah sudah baik dan layak untuk diteruskan. Sementara yang pro perubahan, sudah pasti memilih partai oposisi atau partai yang menawarkan perubahan, termasuk dari kalangan partai kecil atau partai baru (Partai Gerindra dalam hal ini, adalah salah satu partai yang juga berpeluang mendapatkan suara para swing voters dan pemilih pemula selain juga partai-partai yang lahir di masa reformasi).

Lalu bagaimana peluang Partai Demokrat menyedot suara partai-partai besar atau yang sudah eksis? Ini juga bisa terjadi, bahkan sangat mungkin! Tetapi untuk ‘menyedot’ pemilih dari partai sekelas Golkar, PDI Perjuangan, PKS, PPP, bukanlah perkara mudah karena mereka pasti tidak akan rela dan akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pemilihnya agar tidak beralih! Apalagi, khusus untuk partai Golkar, walaupun pada awalnya tidak mendukung paket SBY-JK, tapi dengan kecerdikannya, partai ini sukses ‘nebeng ngetop’ di kabinet SBY-JK (mengambil manfaat positif dengan memposisikan diri sebagai pendukung penguasa, walaupun saat pilpres, partai ini tidak mendukung SBY-JK). Dengan demikian, Partai Golkar berhasil menjaga ‘reputasi’-nya sebagai pememang Pileg 2004. Sementara PDIP sebagai oposisi juga berhasil memanfaatkan ‘celah’ untuk meningkatkan peluang terpilihnya pada saat mendekati Pileg dengan mengangkat isu sembako, masalah BBM dan terakhir ‘kisruh’ mengenai DPT (daftar pemilih tetap).

Mungkin saja pemilih partai-partai yang sudah eksis ini ada yang beralih ke Partai Demokrat, tetapi jumlahnya tidak akan signifikan. Argumen untuk asumsi ini adalah: popularitas Partai Demokrat selama ini terdongkrak oleh popularitas Presiden SBY. Sementara untuk memilih Pak SBY sebagai Presiden, tidak harus mencontreng Partai Demokrat. Bisa saja, partainya, misalnya PKS, tapi capresnya Pak SBY.

Sampai di sini, saya menduga, hasil Pileg 2009 tidak akan jauh berbeda dari Pileg 2004 lalu, walaupun Partai Demokrat akan menjadi partai yang paling spektakuler peningkatan pemilihnya. Kira-kira urutan 5 besarnya seperti ini: Golkar, PDIP, Demokrat, PKS, dan PPP.

Jangan gusar dulu, ini hanyalah prediksi awam, yang sama sekali tidak ilmiah. Saya hanya bermaksud mendokumentasikannya sebelum Pileg 9 April 2009.🙂  [a]