jk-dan-bang-aliKARIR politik Jusuf Kalla (JK) akhirnya sampai di persimpangan. Kini ia harus memilih, tetap berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau maju sebagai calon presiden Partai Golkar.

Sebagai orang yang realistis, JK awalnya tak keberatan memertahankan duet SBY – JK. Peluang mereka untuk memenangkan pemilihan presiden (pilpres) sangat besar, sebab selama menjalankan pemerintahan, duet ini dianggap sukses. Tidak ada kesalahan berarti yang dilakukan keduanya, yang dapat mengangkat popularitas Megawati (oposisi).

Tetapi perkembangan terakhir, baik di Partai Demokrat maupun di Partai Golkar, menuntun JK untuk memilih jalan lain. Kasus Mubarok (Wakil Ketua Umum Partai Demokrat), bagi JK adalah satu indikasi bahwa Partai Demokrat sudah ogah untuk menduetkan SBY dengannya. Pada saat yang sama, sebagai dampak dari kasus Mubarok, muncul dorongan kuat di internal Partai Golkar agar JK maju sebagai capres. 

Masalahnya, bagaimana JK bisa mengungguli popularitas SBY, atau setidaknya bisa mengimbanginya. Sementara dalam berbagai survei, baik yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei, maupun yang sekadar berbentuk jajak pendapat dari media, popularitas JK sangat jauh di bawah Megawati, apalagi SBY. Dalam rangka menjawab masalah inilah, JK memulai silaturahmi politik dengan PKS, tidak lama setelah ia menyatakan kesiapannya maju sebagai capres Partai Golkar. Bagi JK, PKS adalah satu opsi untuk membangun koalisi nasionalis – religius.

Meski demikian, JK sebaiknya tidak gegabah menjadikan PKS sebagai penentu karir politiknya. Walau mendapat sambutan hangat dari pengurus DPP PKS, bukan berarti partai ini akan serta merta ‘merestui’ duet JK – HN. Pasalnya, di PKS sendiri berkembang tiga opsi, yaitu duet SBY – HN, JK – HN dan HN maju sebagai capres jika perolehan suara PKS dalam pemilu legislatif memungkinkan. Bagi PKS, JK hanyalah opsi kedua karena duet SBY – HN sedikit lebih seksi dibanding duet JK – HN. Selain itu, untuk membangun koalisi nasionalis – religius, PKS tidak harus bersama Partai Golkar, tapi bisa juga dengan Partai Demokrat. Pada saat yang sama, Mubarok Cs di Partai Demokrat tentu akan terus mendorong terwujudnya duet SBY – HN karena ini memang adalah misi mereka.

Oleh karena itu, sekali lagi, JK sebaiknya jangan terlalu terpaku, apalagi sampai terlena dengan gagasan koalisi nasionalis – religius yang akan dibangun dengan PKS. Kalau pun jadi, duet JK – HN (dengan komposisi sipil – sipil, jawa dan luar jawa) hanya bisa memberi perlawanan berarti bagi SBY, kira-kira samalah dengan nasib kandidat pasangan Amin Rais – Siswono pada pilpres 2004 lalu. Tetap akan kalah, walaupun kalahnya secara terhormat!

Akan lebih baik, bila JK mencari opsi lain. Salah satu yang dapat dipertimbangkan adalah duet Kalla – Prabowo. Duet ini sangat menarik dan pas bila ditinjau dari sudut pandang geo politik: tua – muda, jawa – non jawa, dan sipil – militer. Aliran politik kedua tokoh ini yang berada di tengah, membuat mereka bisa diterima oleh pemilih beraliran nasionalis sekuler, bisa juga diterima oleh pemilih berbasis Islam.

Duet Kalla – Prabowo, paling tidak bisa mengimbangi popularitas SBY (dan HN) dan juga Megawati (siapapun pasangannya). Ketiga kandidat ini memiliki ‘modal’ dalam tingkat dan derajat yang sama (kalau berbeda, paling-paling beda-beda tipis), yang sudah seharusnya dimiliki oleh kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan presiden. Sampai di sini, mungkin ada yang bertanya: pantaskah JK berduet dengan Prabowo? Atau mungkin ada yang menafsirkan, dengan duet ini, JK hanya akan memanfaatkan popularitas Prabowo yang lagi naik daun.

JK adalah satu fenomena tersendiri dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Pada pilpres 2004 lalu, ia ‘terlempar’ dari konvensi Partai Golkar karena kuatnya arus yang mendorong Wiranto. Tapi pada kenyataannya, dalam pilpres 2004, Wiranto tidak berhasil mendapatkan 100% suara pemilih Partai Golkar.

Sebaliknya, JK bisa mengarahkan sebagian besar pemilih Partai Golkar waktu itu untuk memberikan suaranya pada pasangan SBY – JK. Jika hanya mengandalkan suara Partai Demokrat waktu itu, tentulah perolehan suara pasangan SBY – JK tidak akan sefantastis itu (sayangnya, faktor JK dalam kemenangan SBY – JK pada pilpres 2004 lalu, tidak pernah diakui oleh para pengurus Partai Demokrat).

Kini, JK akan secara resmi dicalonkan oleh Partai Golkar. Ini berarti JK memiliki dua kartu As sebagai ‘modal’ untuk bertarung dalam pilpres 2009. Pertama, JK memiliki popularitas dan daya tarik tersendiri di kalangan pemilih, yang sejauh ini belum terdeteksi oleh survei-survei politik karena ia masih berada dalam bayang-bayang SBY (ceritanya tentu akan berbeda jika JK telah secara resmi keluar dari garis SBY). Kedua, JK kini didukung oleh mesin politik Partai Golkar yang notabene adalah pemenang pemilu legislatif 2004 lalu.

Dalam berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada) yang dilakukan secara langsung, terbukti kandidat yang mengantongi dua kartu As itu akan mendulang suara secara fantastis. Mesin politik yang kuat, tapi tak didukung oleh popularitas kandidat, pada akhirnya hanya akan melahirkan kekalahan. Popularitas kandidat, wlau tak didukung mesin politik yang kuat, bisa menjadi kemenangan tipis. Tapi perpaduan antara popularitas kandidat dengan mesin politik yang kuat, terbukti akan menciptakan kemenangan mutlak!

Dengan dasar ini, JK pantas berduet dengan Prabowo. Dan duet Kalla – Prabowo akan menjadi duet yang saling melengkapi dan saling menguntungkan. Popularitas Prabowo yang lagi naik daun akan menambah daya tarik duet ini. Keduanya juga memiliki modal dalam arti sesungguhnya yang lebih dari cukup untuk membiayai kampanye mereka, sehingga tak perlu merepotkan orang lain, apalagi sampai membebani BUMN kita.

Karakter dan perilaku politik yang sederhana dan lugu, tentu tidak akan membuat JK merasa lebih hebat dari Prabowo. Sebaliknya, Prabowo pun tak etis merasa lebih hebat dari JK karena JK telah memberikan ‘bukti’ selama aktif di pemerintahan. Duet Kalla – Prabowo, jika pun akhirnya kalah dalam pilpres 2009, menjadi akhir yang manis bagi karir politik JK dan menjadi sebuah langkah awal yang fenomenal bagi Prabowo Subianto yang baru saja memulai karir politiknya melalui Partai Gerindra.

Tapi jika berhasil memenangkan pilpres 2009, maka menjadi akhir yang sempurnalah bagi karir politik JK, dan awal yang sempurna pula bagi karir politik Prabowo. Bukan mustahil, pada pilpres selanjutnya pada tahun 2014 langkah Prabowo, sebagai representasi pemimpin muda, menuju RI-1 akan tak terbendung. Sehingga duet ini dapat pula dimaknai sebagai masa transisi dari kepemimpinan kaum tua dengan kaum muda.

Pada akhirnya, biarlah Pak JK dan Pak Prabowo yang memutuskan sendiri! [a]