SEBELUM menginjak tanah di negeri ini, saya sering bertanya, mengapa banyak orang mendambakan untuk pergi ke Singapura sekadar jalan-kalan? Mengapa orang begitu bangga berfoto dengan latar patung merlion? Setelah saya berada di negeri ini, saya menemukan satu kata kunci, yang menjawab semua pertanyaan saya itu, yaitu disiplinPemerintah Singapura berhasil ‘mendisiplinkan’ warganya, di semua lini kehidupan. Dulu, masyarakat Singapura sama saja dengan masyarakat kita, susah diatur. Tapi karena pemerintah bisa ‘mendisiplinkan’ warganya, pemerintah dengan mudah ‘menyulap’ Singapura menjadi seperti sekarang ini. Sementara negara kita, seperti jalan di tempat. Nah, kalau ingin negara kita juga maju, ya kita harus ‘membantu’ pemerintah dengan cara mulai mendisplinkan diri. Tidak ada salahnya kita belajar disiplin ala warga Singapura. 

Ketika hendak ke Singapura, hal pertama yang disampaikan guide kami adalah tepat waktu. Kalau di tiket ferry tertera, jam berangkat (boarding) 07.10 WIB, maka kita harus sampai di pelabuhan paling tidak setengah jam sebelumnya. Bagi yang terlambat, siap-siap saja membeli tiket baru. Kenapa tidak ada toleransi? Karena keterlambatan kapal di Batam, berpengaruh terhadap jadwal keberangkatan di Singapura. Warga Singapura sangat menghargai waktu. Di negara kita justru sebaliknya, yang membudaya malah ‘jam karet’.

Setelah sampai di Harbour Front (pelabuhan laut di Singapura), pelajaran berikutnya adalah antre dengan tertib. Hal ini terlihat ketika satu per satu pengunjung (penumpang kapal) diperiksa dokumennya (paspor dll) di kantor imigrasi. Selama di garis antrian, jangan coba-coba usil, apa lagi saling mendorong. Mengantri secara tertib di Singapura, tidak hanya saat pemeriksaan dokumen di kantor imigrasi. Bahkan ketika menunggu taksi, kita juga harus antri di tempat khusus yang disediakan karena taksi di negara kota ini tidak berhenti di sembarang tempat.

Disiplin berikutnya adalah disiplin menjaga kebersihan. Di Singapura, kita melihat sampah hanya di tempat sampah. Tidak ada sampah yang ‘berkeliaran’ mengganggu pandangan mata, walaupun itu hanya puntung rokok atau bungkus permen atau sobekan kertas. Di Singapura juga ada selokan. Tapi saat selokan dibersihkan, lumpurnya tidak dibiarkan berantakan di bahu jalan, namun dimasukkan dalam kantong plastik lalu diangkut ke tempat pembuangan. Di negara kita, sampah berhamburan di tepi (kiri-kanan) jalan!

Dalam hal disiplin berlalu-lintas, warga Singapura adalah jagonya. Seumpama Anda warga Singapura sedang berkendara, lalu melanggar rambu lalu lintas, misalnya, berhenti bukan di tempat pemberhentian atau melintas di jalur yang salah. Yakinlah, surat tilang sudah menunggu Anda di rumah.

Warga Singapura juga disiplin dalam memelihara tanaman, khususnya di taman yang berada di area  publik (public space). Merusak tanaman, seumpama mencabut atau mematahkan ranting pohon, bisa kena denda. Itu sebabnya, walau disesaki gedung pencakar langit, taman-taman tetap asri.

Pelajaran terakhir adalah disiplin menjaga keamanan. Polisi di Singapura sangat concern terhadap masalah keamanan dan mereka siap bahu membahu menjaga keamanan. Jika tak percaya, cobalah mencuri, dijamin dalam waktu kurang dari lima menit anda akan masuk ‘ofis’ (office).

Mungkin ada yang berfikir, pelajaran disiplin ala Singapura ini hal yang sepele. Tapi apalah arti bangsa yang besar, jika warganya tidak bisa tepat waktu. Lebih senang berdesakan dari pada antri dengan tertib, suka membuang sampah di sembarang tempat, gemar melanggar rambu lalu lintas, dan… cape deh! [a]