anak-palestinaKONFLIK Israel – Palestina kembali memanas. Jika tak segera diselesaikan, konflik akan terus berkembang dan menjadi konflik agama. Sejauh ini saya masih berfikir bahwa konflik Israel – Palestina termasuk dalam kategori “perebutan wilayah”. Untuk menyelesaikannya, konflik tersebut harus dipandang dalam perspektif: Israel menjajah Palestina. Negara-negara Arab di sekitar Palestina dan Israel harus mengupayakan agar Israel mengembalikan wilayah Palestina yang didudukinya.

Persoalannya sekarang, mana daerah yang betul-betul telah sah dimiliki Israel dan mana yang merupakan daerah rampasan dari Palestina. Mari kita telusuri. Daerah yang sah dimiliki Israel, adalah daerah yang diberikan oleh Inggris selaku “penguasa” kawasan Palestina pada Perang Dunia II. Meski negara-negara Arab tidak menyetujui hal ini, tetapi tentara negara-negara Arab tidak mampu mengalahkan tentara Inggris pada waktu itu, sehingga Israel memproklamirkan kemerdekaannya dengan dukungan Inggris dan Amerika Serikat. Ini adalah fakta sejarah yang harus diakui.

Sampai di sini, Israel telah menjelma sebagai satu negara berdaulat. Setelah kemerdekaan Israel ini, warga Yahudi di seluruh penjuru dunia mulai berdatangan ke Israel sehingga wilayah Israel dirasakan semakin sempit. Maka mulailah terjadi perluasan wilayah Israel. Pada awalnya, Israel menempuh jalur legal, yakni membeli tanah dari kaum Palestina sedikit demi sedikit, memanfaatkan kemiskinan warga Palestina. Tapi lama kelamaan, Israel mulai memperlihatkan tabiat aslinya dengan menganeksasi wilayah-wilayah yang secara administratif merupakan wilayah Palestina, bahkan sampai ke wilayah Libanon, Yordania dan Mesir. Perang pun tak dapat dihindari.

Karena perang yang berkepanjangan, PBB akhirnya ikut campur. Melalui suatu proses Diplomasi yang panjang dan melelahkan, akhirnya disepakati pembagian wilayah Israel dan Palestina pada tahun 1947 (lihat gambar, kolom kedua). Nah, pembagian wilayah oleh PBB inilah yang harusnya dijadikan acuan dalam menyelesaikan konflik Israel – Palestina. Wilayah-wilayah Palestina yang diduduki oleh Israel di luar batas yang telah ditetapkan oleh PBB, harus dinyatakan sebagai daerah jajahan Israel dan untuk menyelesaikan konflik, daerah-daerah tersebut harus dikembalikan ke Palestina. Ini yang harus diupayakan oleh PBB dan negara-negara Arab di sekitar Palestina.

Penyerobotan wilayah Palestina oleh Israel. Yang tersisa nyaris tinggal 10%

Solusi ini menurut saya lebih Adil dan realistis bagi Palestina, dan saya kira inilah yang diperjuangkan oleh para pejuang Palestina. Seharusnya, dengan telah mendapatkan lebih dari 50% wilayah Palestina, Israel tidak perlu serakah. Tapi coba lihat perkembangan terakhir, dimana Israel sudah menguasai hampir 90% wilayah Palestina (lihat gambar, kolom terakhir). Itulah sebabnya saya katakan di awal tulisan ini, untuk menyelesaikan konflik ini, harus dipandang dalam perspektif: Israel menjajah Palestina!

Negara-negara di dunia yang pro demokrasi, peduli hak azasi manusia dan anti penjajahan, termasuk kita di Indonesia, harus terus mengupayakan agar Israel menghentikan penjajahan atas Palestina dan mengembalikan daerah jajahannya ke Palestina, jika ingin menyelesaikan konflik. Jika tidak, mustahil gerakan-gerakan perlawanan di Palestina akan berakhir, yang berarti konflik akan terus berlangsung.

Ironisnya, negara pro demokrasi, yang dipenuhi penggiat hak azasi manusia sekaliber Amerika Serikat justeru mendukung Israel. Inggris pun yang merupakan biang konflik Israel – Palestina, juga diam-diam saja. Lalu siapa yang akan membantu Palestina? Arab Saudi dan Mesir, sejauh ini amat takut dengan Amerika Serikat karena menjaga kepentingan ekonomi mereka. Negara-negara “Hero” yang ada di Arab semuanya sudah dirongrong oleh militer AS, seperti Irak dan Afganistan yang bernasib tragis. Praktis hanya Iran yang bisa bersuara lantang, tetapi Iran pun sedang jadi target AS untuk diporakporandakan layaknya Irak dan Afganistan sekaitan dengan isu senjata nuklir yang dikembangan Iran. Dan kini, Palestina hanya bisa berharap dari negara Arab seperti Qatar, Suriah, Yordania, Libanon dan negara-negara berpenduduk muslim cukup signifikan di Asia, seperti kita Indonesia dan Malaysia.

Saya sangat prihatin dengan konflik di Palestina yang telah menelan ribuan korban jiwa, yang kebanyakan justeru adalah anak-anak yang tidak berdosa. Tapi menyeret konflik Israel – Palestina ke wilayah konflik agama, juga tidak akan menyelesaikan masalah… [a]