Melancong ke Thailand (Ssst, Ada Thai Girl Show…)

icon_thailand2PENERBANGAN dari Changi Airport (Singapura) ke Suvarnabhumi Airport (Bangkok, Thailand) ditempuh selama kurang lebih dua jam. Suvarnabhumi adalah bandara utama di Bangkok yang kelasnya menyamai Changi Airport. Konstruksinya sangat kokoh, terlihat dari desain interior bernuansa techno dengan warna dominan silver (perak). Thailand adalah salah satu negara destinasi wisata yang ‘seksi’. Setidaknya begitulah anggapan kebanyakan orang yang pernah berkunjung ke negeri gajah putih ini. Di negara inilah tempat berlangsungnya Thai Girl Show yang terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia.

Luas wilayah Thailand sekitar 510.000 km persegi. Di sebelah barat dan utara, Thailand berbatasan dengan Myanmar, di timur laut dengan Laos, di timur dengan Kamboja, sedangkan di selatan dengan Malaysia. Secara geografis, Thailand terbagi enam wilayah: (1) perbukitan di utara di mana gajah-gajah bekerja di hutan dan udara musim dinginnya cukup baik untuk tanaman seperti strawberry dan peach; (2) pleteau luas di timur laut berbatasan dengan Sungai Mekong; (3) dataran tengah yang sangat subur; (4) daerah pantai di timur dengan resort-resort musim panas di atas hamparan pasir putih; (5) pegunungan dan lembah di barat; dan (6) daerah selatan yang sangat cantik.

Bandara Suvarnabhumi di Bangkok - Thailand (Foto: Asmar Abdullah)

Bandara Suvarnabhumi di Bangkok – Thailand (Foto: Asmar Abdullah)

Thailand memiliki iklim tropis yang ramah, dengan musim semi dari Maret sampai Mei, musim hujan Juni sampai September dan musim dingin dari Oktober sampai Februari. Rata-rata suhu tahunan di negeri ini 28 derajat celcius. Mayoritas penduduk negeri ini beragama Budah Theravada. Meski demikian, negara ini sangat pro kebebasan beragama. Oleh karena itu, di negeri ini juga terdapat penganut Muslim, Kristen, Hindu dan Sikh. Bahasa Thai hampir tak dapat dimengerti oleh wisatawan, namun bahasa Inggris dipahami luas di tempat-tempat utama seperti Bangkok, dan juga menjadi bahasa bisnis resmi. Nama-nama jalan juga menggunakan bahasa Inggris di bawah bahasa Thai.

Salah satu sudut kota di Bangkok. Banyak juga pedagang kaki lima, tapi tertata dengan baik. Sehingga terlihat rapi dan bersih (Foto: Asmar Abdulah)

Salah satu sudut kota di Bangkok. Banyak juga pedagang kaki lima, tapi tertata dengan baik. Sehingga terlihat rapi dan bersih (Foto: Asmar Abdulah)

Bahasa Thai ada yang mirip dengan bahasa Indonesia, seperti kata putra-putri, suami-isteri, singa, anggur, dan lain-lain. Pada jaman dahulu, Thailand terkenal dengan sebutan negeri Siam. Salah satu kerajaan besar yang berpusat di Palembang, Sriwijaya, pernah berkuasa sampai ke negeri ini dan banyak peninggalannya yang masih ada di Thailand. Bahkan, seni kerajinan di Palembang dengan Thailand banyak yang mirip.

Di awal tahun 1200, bangsa Thai mendirikan kerajaan kecil di Lanna, Phayao dan Sukhotai. Pada 1238, berdirilah kerajaan Thai yang merdeka penuh di Sukhothai (Fajar Kebahagiaan). Tahun 1300, Sukhothai dikuasai kerajaan Ayutthaya, sampai akhirnya direbut oleh Burma di tahun 1767. Namun tak lama kemudian Raja Taksin berhasil mengusir Burma dan mendirikan ibu kota kerajaan di Thon Buri. Tahun 1782, Dinasti Chakri yang berkuasa (sampai hari ini) mendirikan ibu kota baru di Bangkok. Thailand, kini, merupaka negara monarki konstitusional.

***

Pagi itu, kami mengawali jalan-jalan kami di negeri gajah putih ini di Chao Praya River. Menggunakan kapal motor yang khusus buat wisatawan, kami berkeliling sungai yang konon milik kerjaan (river if the king). Di depan salah satu kuil di sungai ini, terdapat banyak ikan patin berukuran besar. Warga setempat meyakini ikan-ikan patin itu adalah penjaga kuil karena hanya ada di sekitar kuil. Kepada wisatawan, mereka mengatakan bahwa ikan-ikan itu membawa keberuntungan. Para wisatawan pun menyikapinya dengan memberikan makanan buat ikan-ikan itu. Selanjutnya, masih menggunakan perahu bermotor, kami ke River City dan keluar melalui Sheraton Milenium Hill.

Sungai Chao Praya dan Perahu Khusus buat Wisatawan (Foto: Asmar Abdulah)

Sungai Chao Praya dan Perahu Khusus buat Wisatawan (Foto: Asmar Abdulah)

Setelah menyaksikan pemandangan kota Bangkok dari Sungai Chao Praya, kami menuju Wat Arun (temple of Down) di Thon Buri, ibukota kerjaan Thailand sebelum 1782. Selain menikmati indahnya desain candi, wisatawan juga dapat berbelanja berbagai cenderamata di tempat ini.

Kuil Wat Arun atau Temple of Down (foto: Asmar Abdullah)

Kuil Wat Arun atau Temple of Down (foto: Asmar Abdullah)

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Pattaya, salah satu destinasi wisata unggulan di Thailand. Perjalanan ke daerah yang amat terkenal dengan kehidupan malamnya ini ditempuh sekitar tiga jam dari Bangkok. Dahulu, Pattaya adalah salah satu base militer Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Kebiasaan tentara AS yang menyukai ‘bar’ dan ‘kencan’ terbawa hingga saat ini. Usai perang, beberapa di antara mereka kembali ke Pattaya membangun bisnis hiburan malam. Jadilah Pattaya seperti sekarang ini. Kehidupan yang sesungguhnya (aktivitas bisnis) baru dimulai pada pukul 17.00 sore. Sementara pagi hingga sore harinya, kebanyakan warga justru baru beristirahat.

Pertunjukan Gajah, salah satu hiburan di Nongnooch Vilage (Foto: Asmar Abdullah)

Pertunjukan Gajah, salah satu hiburan di Nongnooch Vilage (Foto: Asmar Abdullah)

Sebelum ke pusat kota Pattaya, kami mampir di Nongnooch Vilage menyaksikan atraksi kebudayaan Thailand yang dimeriahkan berbagai pertunjukan seperti tari tradisional, tari perang dan atraksi gajah. Di tempat ini, kami juga menikmati indahnya taman bunga.

Salah seorang pengunjung memberi makan gajah (foto: Asmar Abdullah)

Salah seorang pengunjung memberi makan gajah (foto: Asmar Abdullah)

Setelah makan malam, barulah kami ke pusat kota Pattaya. Syaiful, guide kami, mengajak kami menikmati pertunjukan bencong (Cabaret Show) dan streaptease ala Thailand (Thai Girl Show) yang sepanjang perjalanan dipromosikannya sebagai obyek wisata ‘paling dicari’ di Thailand, khususnya di Pattaya. Wisatawan, katanya, rugi jika tak menyaksikan dua pertunjukan ini. Malam itu, ruang teater bernama Cabaret Alcazar, penuh oleh wisatawan yang menyaksikan pertunjukan para waria selama satu jam. Busyet, bencong-bencong di Pattaya ini luar biasa cantiknya! Tidak semua sih, tapi ada beberapa yang cantiknya menyaingi foto model (kata Syaiful, para bencong itu tidak lagi memiliki alat kelamin pria. Sudah dioperasi menjadi kelamin wanita, hahaha…). Salah satu dari mereka tampil menyanyikan lagu dangdut Indonesia, mungkinkah waria satu itu berasal dari Indonesia?

Cabaret Show alias 'Bencong' Show. Salah satunya tampil menyanyikan lagi dangdut Indonesia (foto: Asmar Abdullah)

Cabaret Show alias ‘Bencong’ Show. Salah satunya tampil menyanyikan lagi dangdut Indonesia (foto: Asmar Abdullah)

Usai menyaksikan Cabaret Show, kami berpindah ke tempat lain yang tidak terlalu jauh dari Cabaret Alcazar. Arena Show, di tempat inilah Thai Girl Show berlangsung secara nonstop selama semalam penuh. Setiap kelompok pengunjung dalam jumlah tertentu hanya mendapat ‘jatah’ satu jam untuk menikmatinya. Sebelum masuk, semua kamera maupun handphone dikumpulkan oleh petugas, tidak boleh dibawa masuk. Satu per satu kami pun masuk… dag dig dug…. Cabaret Show memang luar biasa, tapi Thai Girl Show lebih luar biasa lagi…

Pertunjukan kekuatan dan ketangkasan (keterampilan) alat kelamin wanita (maaf). Entah melibatkan magic atau tidak, yang jelas penonton yang menyaksikan umumnya menganggap pertunjukan ini ajaib. Bayangkan saja, para wanita (thai girl) dalam show ini bisa menggunakan alat kelamin (maaf) mereka untuk meniup sumpit dan tepat mengenai sejumlah balon pada jarak sekitar 3 meter! Lebih gila lagi, mereka menggunakan alat kelamin (maaf) untuk membuka tutup botol! Bahkan mereka juga bisa memasukkan sejumlah pisau silet ke dalam alat kelamin, lalu menariknya keluar satu per satu tanpa terputus! Ada juga, isi minuman botolan dimasukkan ke vagina (maaf) tanpa tumpah, sesaat kemudian dimasukkan lagi ke botolnya semula tapi warnanya sudah berubah. Ajaib kan? Ini hanya beberapa item yang masih patut untuk ditulis. Masih ada beberapa item lagi sebetulnya, namun sengaja tidak dimasukkan dalam artikel ini, misalnya aksi berhubungan seks yang tidak lazim (membutuhkan tenaga ekstra). Karena sifatnya yang kontroversial, pemerintah Thailand pernah mencoba untuk menutup pertunjukan ini dengan pertimbangan norma agama. Tapi kemudian pertunjukan ‘khas Thailand’ ini dibuka lagi karena saat ditutup, penerimaan dari sektor pariwisata berkurang sangat signifikan.

Pukul 12.00 malam barulah kami bersitirahat di Hotel untuk selanjutnya, esok pagi memulai perjalanan kembali ke Indonesia. Thailand memang destinasi wisata yang ‘seksi’. Wajarlah kalau Indonesia masih berada di bawah Thailand dalam hal kunjungan wisata. [a]

Senang berwisata ke luar negeri? Baca juga: Melancong ke Singapura!

About these ads

2 thoughts on “Melancong ke Thailand (Ssst, Ada Thai Girl Show…)

  1. Pingback: Melancong ke Singapura! | Rumah Sejuta Ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s